Demikian disampaikan Presiden Direktur Pertamina Cepu Salis Aprilian melalui pesan singkat kepada detikFinance, Selasa (24/2/2009).
Salis menjelaskan, keputusan ini diambil berdasarkan hasil kajian BP Migas dan konsultan independen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil kajian tersebut menunjukkan fasilitas model FSO merupakan pilihan yang lebih ekonomis menyadari profil produksi Banyu Urip tidak bertahan lama.
"Profil produksi Banyu Urip tidak bertahan lama sehingga FSO disimpulkan lebih ekonomis," tambahnya.
Selanjutnya, BP Migas bersama Mobil Cepu Ltd (MCL) dan Pertamina EP Cepu kini tengah mengkaji mengenai ukuran FSO yang paling ekonomis dan skema pengadaannya.
"Lebih lanjut BPMIGAS sedang mengkaji bersama MCL dan partner yaitu PT Pertamina EP Cepu tentang ukuran FSO yang paling ekonomis dan skema pengadaannya, apakah sewa atau beli," tuturnya.
Sebelumnya, Pansus Hak Angket BBM mempertanyakan penggunaan FSO untuk pengembangan Blok Cepu. Pansus mensinyalir, penggunaan FSO berpotensi merugikan negara hingga US$ 1,2 miliar.
Pembangunan FSO diduga merugikan negara karena dibangun di laut, padahal kalau dibangun di darat bisa lebih murah. Untuk pembangunannya saja di laut butuh dana US$ 500 juta, sementara untuk pembangunan di darat hanya sekitar US$ 200 juta.
(lih/ir)











































