Demikian hasil survei PricewaterhouseCoopers yang disampaikan Techincal Advisor PwC untuk bidang pertambangan Sacha Winzenried dalam siaran pers, Kamis (26/2/2009).
"Perubahan drastis ini paling terasa untuk perusahaan pertambangan mineral yang mengalami kemerosotan harga secara merata khususnya nikel dan tembaga," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini disebabkan karena negosiasi harga jual tahunan mereka yang telah disepakati di akhir 2007 dan awal 2008 pada waktu harga komoditas masih tinggi," jelasnya.
Kesepakatan yang dibuat selama tahun 2007 memang membuahkan keuntungan bagi perusahaan tambang. Pada saat itu, selain karena harga komoditas yang tinggi, kepercayaan investor pada sektor pertambangan masih kuat, baik di Indonesia dan di seluruh dunia.
Hal ini terlihat dari pertumbuhan signifikan dalam kapitalisasi pasar perusahaan pertambangan baik dipasar modal internasional maupun Indonesia.
Namun sejak pertengahan 2008, harga komoditas terus menurun dan akhirnya jatuh secara drastis.
"Sejak pertengahan 2008 harga komoditas mulai melemah dan jatuh secara dramatis di kuartal ketiga 2008 ketika krisis perekonomian dunia menjadi jelas," ungkap Winzenried.
Kepercayaan investor di seluruh dunia pun ikut luruh. Hal ini ditandai dengan penjualan besar-besaran saham di bursa seluruh dunia untuk semua sektor. Dampaknya pun tak main-main, terutama di sektor pertambangan.
"Kapitalisasi pasar perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia melejit lebih dari 300% dari 2006 ke 2007. Tapi menjelang akhir November 2008, kapitalisasi pasar terkikis hingga 74%," jelasnya.
Akibatnya, perolehan pendapatan dan laba perusahaan tambang pun harus terkikis. Namun, biaya operasional yang meningkat belakangan ini masih bisa ditutupi dengan keuntungan dan laba saat harga komoditas sedang tinggi.
"Peningkatan perolehan laba selama masa harga komoditas yang tinggi menyamarkan peningkatan signifikan dalam biaya operasional yang terjadi sebagai akibat kurangnya pasokan," tuturnya.
Winzenried menambahkan saat ini industri pertambangan menghadapi tantangan untuk pengurangan biaya operasional secara besar-besaran yang terjadi selama periode ini agar dapat mengurangi dampak krisis ekonomi saat ini.
Peningkatan Investasi Kecil
Laporan PwC juga menunjukan pertumbuhan belanja investasi perusahaan tambang pada 2007 dan 2008 tidak terlalu signifikan. Investasi yang dibelanjakan pun sebagian besar untuk investasi pada tambang-tambang yang sudah beroperasi.
"Data survei terhadap Indonesia sekali lagi menunjukan kurangnya investasi dalam eksplorasi tambang baru, dan pengeluaran untuk investasi terutama terjadi untuk pergantian pabrik dan peralatan demi memelihara kegiatan operasional yang telah berjalan," katanya.
Winzenried mengatakan kondisi ini sangat memprihatinkan karena pemain bersedia mengeluarkan biaya untuk mempertahankan kegiatan operasional namun tidak bersedia menanamkan modal dalam pengembangan tambang baru.
"Hal ini menunjukan tidak terjadinya investasi yang berarti dalam sektor ini yang dilakukan oleh pemain baru," tandasnya.
(epi/lih)











































