Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Utama Pusri Dadang Heru Kodri di Kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN),Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (26/2/2009).
"Perkiraannya (selisih kurs) agak sulit ini, besar itu selisih kursnya. Waktu itu kan hampir Rp 1 triliun. Tapi dari Pusri sendiri enggak ada," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, BUMN pupuk itu memiliki enam anak usaha, antara lain PT Pupuk Kaltim, PT Petro Kimia Gresik, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Rekayasa Industri dan PT Mega Eltra.
"Itu dari anak-anak usaha, jadi Pusri sebagai holding," katanya.
Ia mengatakan, angka sebesar itu merupakan estimasi awal, perseroan masih akan melakukan penghitungan lebih lanjut sekaligus mencari treatment-nya.
"Ya itu belum jelas segitu, apakah nantinya setelah dihitung masih segitu atau tidak. Nanti treatmentnya menyangkut sekarang dan ke depan. Kalau treatment-nya sekarang bisa dikapitalisir kan enggak masalah," ujarnya.
PKT dan PKG Siap Ambil Pinjaman
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengatakan, dua anak usahanya yaitu Pupuk Kaltim dan Petro Kimia Gresik sudah siap mengambil pinjaman perbankan karena sudah bisa memenuhi pasokan gas selama 20 tahun.
"Sekarang ini pabriknya ada yang pasokan 10 tahun. Tapi Kaltim dan Petro sudah bisa itu. Jadi bertahap enggak harus sekaligus semuanya," imbuhnya.
Dana dari pinjaman perbankan tersebut akan digunakan untuk revitalisasi dan pembangunan pabrik baru Pusri.
Pabrik-pabrik pupuk tua yang akan direnovasi antara lain Pabrik Pusri I, II dan III dan Pabrik Pupuk Petrokimia. Diperkirakan masa perbaikan akan memakan waktu tiga tahun.
"Sisanya belum ada jaminan gasnya. Tapi ini kan long term jadi yang terpenting 2009-2010 aman. Kalau nanti 2010 kesana kan long term,"
tandasnya.
(ang/lih)










































