Dalam forum International Fund for Agricultural Development (IFAD) ke-32 Governing Council IFAD di Roma Italia pada tanggal 18 sampai 19 Februari 2009 terungkap banyak perwakilan negeri meminta Bulog untuk membagi pengalamannya sebagai sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang pangan (beras).
"Kita sebagai sesuatu yang langka sebagai BUMN, kelihatannya efektif. Mereka melihat sosok lembaganya yang efektif respon cepat, efektif, itu lah yang menjadi konsen mereka. Lembaga yang tidak diintervensi, lincah bergerak ini yang diapresiasi mereka," kata Dirut Bulog Mustafa Abubakar, dalam acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (26/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Istilahnya itu lesson-learned," tambah Mustafa.
Keberhasilan ini kata dia tidak terlepas dari langkah Bulog dalam merespon lonjakan harga beras tahun lalu diantaranya dengan menggandakan pengadaan beras, menjaga stok, sehingga mencegah spukalasi, peningkatan penyaluran beras subsidi dan lain-lain.
Sementara itu pakar bidang pangan Husein Sawit di tempat yang sama mengatakan bahwa masalah stabilitas harga menjadi isu penting bagi banyak negara di dunia. Hal ini karena potensi instabilitas harga komoditas kedepannya diperkirakan masih akan terjadi.
Seperti diketahui para periode Januari 2007 sampai Desember 2008, kenaikan harga beras di pasar internasional mencapai 41% misalnya Thailand 25% atau Vietnam 25%. Sedangkan untuk Indonesia pada waktu yang sama harga beras relatif stabill, walaupun kenaikan beras di tingkat grosir sempat mencapai 6% khusus untuk IR I dan IR III (hen/lih)











































