Seluruh perusahaan plat merah tersebut hanya membukukan laba bersih sebesar Rp 75 triliun di tahun 2008.
Hal itu dikemukakan oleh Sekretaris Kementerian Negara BUMN Said Didu di kantornya, Gedung Garuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (27/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, jika tidak mengalami rugi selisih kurs, maka perolehan laba bersih BUMN tersebut bisa melampai target RKAP 2008. Dengan adanya rugi selisih kurs tersebut, maka pemerintah akan menurunkan targetnya dalam RKAP 2009.
"Penurunannya tidak bisa dipatok, tapi pasti lebih kecil dari target 2008," ujarnya.
Menurutnya, kerugian tersebut memang mempengaruhi laba tapi memperkuat kas perusahaan karena tidak menjadi dividen maupun pengeluaran.
"Kerugian terjadi pada saat dibuka 1 Januari 2008, Rp 9.300. Ketika ditutup Rp 11.900. Selisih itu yang dipakai dalam akutansi lalu dikalikan terhadap beban utang dia. Kalau enggak punya utang ya enggak masalah," jelasnya.
Ia menambahkan, beberapa BUMN yang mengalami kerugian cukup besar diantaranya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Pupuk Sriwijaya dan PT Pupuk Kujang. Namun sayang, ia nggak merinci berapa besar kerugian yang mereka derita.
"Kemaren itu Pusri lebih dari Rp 2 triliun, dari Pupuk Kujang sendiri sudah Rp 1 triliun. PGN juga besar," ungkapnya.
(ang/lih)











































