Anjloknya ekspor ini bukan hanya disebabkan lesunya permintaan di pasar ekspor tradisional seperti AS, Eropa dan Jepang akibat krisis global, namun dipicu oleh ketidakmampuan bersaingnya produk Indonesia menghadapi pemain-pemain baru seperti Brasil, China dan Malaysia.
"Biasanya bulan Januari sudah ada orderan, hingga saat ini belum ada," kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Abbas Adhar dalam acara orientasi wartawan kehutanan, masa depan industri kehutanan ditengah krisis finansial global, Bogor, Sabtu (28/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekspor tahun ini sangat pesimistis sekali. Tahun 2009, perkiraan hanya bisa mengekspor 60% dari volume dari tahun 2008 sempat mencapai 2,5 juta meter kubik senilai US$Β 1,5 miliar," imbuhnya.
Untuk menghadapi kondisi pasar, para produsen mencoba mensiasatinya dengan mengalihkan komposisi pasar ekspor yang selama ini cukup dominan. Pasar lokal akan ditingkatkan dari komposisi sebelumnya yang hanya dilempar 10% dari total produksi 3,1 juta meter kubik.
"Potensi dalam negeri masih ada, terutama dari furniture, perumahan dan lain-lain," harapnya. (hen/ir)











































