"Dalam perjanjian tersebut, negara pengekspor minyak akan memasok minyak ke negara yang mengalami kekurangan dengan harga yang lebih rendah," kata S. Pushpanathan, Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN seperti dilansir dari AFP, Sabtu (28/2/2009).
"Untuk saat ini tingginya harga minyak memang belum menjadi masalah, tetapi jika ada krisis ke depan ASEAN bisa dapat saling membantu," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tidak dijelaskan, berapa besar pemotongan harga itu dan apakah dimasukkan dalam kesepakatan atau ketika perjanjian tersebut mulai diterapkan. Perjanjian tersebut akan ditandatangani saat puncak pertemuan tahunan itu pada Minggu 1 Maret 2009.
Pushpanathan mengatakan fluktuasi harga minyak merupakan salah satu tantangan dalam menjaga kelangsungan pertumbuhan ekonomi 10 negara anggota ASEAN.
"ASEAN sangat tergantung pada sumber daya minyak dari luar wilayah, maka itu menjadi penting untuk anggota ASEAN meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi situasi darurat dengan memastikan adanya ketersediaan minyak tersebut," ujar Pushpanathan.
Harga minyak dunia sempat melonjak hingga US$ 147 per barel pada Juli 2008, namun seiring dengan melemahnya ekonomi global harga minyak belakangan cenderung turun ke posisi terendah dalam 5 tahun terakhir. Harga minyak di New York saat ini ada di level US$ 44,76 per barel.
Kesepakatan ini merupakan hasil dari sejumlah peningkatan kerja sama antar anggota ASEAN yang diharapkan bisa lebih memiliki ekonomi yang terintegrasi seperti Uni Eropa di tahun 2015.
Anggota ASEAN yang terdiri dari Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam saat ini memiliki GDP gabungan sekitar US$ 1,4 triliun.
(ir/ir)










































