Ekspor Indonesia Merosot 17,7%

Ekspor Indonesia Merosot 17,7%

- detikFinance
Senin, 02 Mar 2009 14:38 WIB
Ekspor Indonesia Merosot 17,7%
Jakarta - Pasar ekspor Indonesia sedang mengalami kelesuan. Selama Januari 2009, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 7,15 miliar atau mengalami penurunan sebesar 17,70 persen dibanding ekspor Desember 2008. Sementara bila dibanding Januari 2008 juga mengalami penurunan sebesar 36,08 persen.

"Biasanya ekspor Januari itu lebih rendah dari Desember, tapi dalam situasi perdagangan dunia yang lesu, penurunannya lebih tajam," jelas Kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi pers di kantornya, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Senin (2/3/2009).

"Dan dari catatan kita, tidak ada negara yang mengalami peningkatan ekspor, semua turun. Yang paling dalam penurunannya adalah ekspor kita ke ASEAN dan dalam catatan kita juga, tidak ada satupun komoditas yang ekspornya naik, semua turun," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rusman menjelaskan, penurunan ekspor terjadi sejak krisis global terjadi, yakni pada Oktober, November, Desember, Januari. Dan penurunan ekspor paling rendah terjadi pada Januari.

Ekspor nonmigas Januari 2009 mencapai US$ 6,21 miliar, turun 16,67 persen dibanding Desember 2008 sedangkan dibanding ekspor Januari 2008 menurun 30,64 persen. Penurunan ekspor nonmigas terbesar Januari 2009 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$191,9 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada timah sebesar US$47,5 juta.

Ekspor nonmigas ke Jepang Januari 2009 mencapai angka terbesar yaitu US$788 juta, disusul Amerika Serikat US$772,3 juta dan Singapura US$594,5 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,72 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,03 miliar.

Menurut Rusman, ekspor ke Jepang memang turun tajam. "Biasanya kita selalu di atas US$ 1 miliar," ungkapnya.

Nilai Impor


Sementara nilai impor Indonesia Januari 2009 mencapai US$6,34 miliar atau turun 17,63 persen dibanding Desember 2008 yang terdiri dari impor migas sebesar US$1,04 miliar (16,45 persen) dan impor nonmigas sebesar US$5,30 miliar (83,55 persen).

Namun jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, nilainya menurun sebesar US$3,27 miliar atau 33,99 persen, dengan penurunan migas dan nonmigas masing-masing sebesar US$ 0,88 miliar (45,61 persen) dan US$2,39 miliar (31,09 persen).

"Penurunan impor hampir sebanding dengan ekspor. Tapi kita masih bersyukur, Januari masih ada surplus meskipun surplusnya kurang dari US$ 1 miliar," katanya. Surplus perdagangan Januari 2009 memang tercatat hanya sebesar US$ 810 juta.

Nilai impor Kawasan Berikat Januari 2009 mencapai US$ 1,17 miliar atau menurun 16,63 persen dibanding Desember 2008, sedangkan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya terjadi penurunan sebesar US$ 0,93 miliar atau 44,35 persen.

Nilai impor di Luar Kawasan Berikat Januari 2009 mencapai US$5,17 miliar atau menurun 17,85 persen dibanding Desember 2008, sedangkan dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya menurun US$ 2,33 miliar atau 31,08 persen.

Selama Januari 2009 impor nonmigas terbesar adalah mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$ 1,26 miliar atau 23,74 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$1,03 miliar dengan pangsa 19,47 persen, diikuti Jepang US$0,76 miliar (14,37 persen) dan Singapura US$0,66 miliar (12,39 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,90 persen dan Uni Eropa sebesar 10,80 persen.

Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan barang modal selama Januari 2009 mengalami peningkatan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya yaitu dari 6,75 persen menjadi 7,54 persen dan dari 16,71 persen menjadi 20,95 persen. Sedangkan peranan impor bahan baku/penolong menurun dari 76,54 persen menjadi 71,51 persen.



(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads