Pasalnya, pedagang di Cibaduyut kian hari makin merasa kondisi di lingkungannya semrawutnya. Bercampurnya para pedagang atau perajin dengan para pedagang di luar produk kulit seperti pakaian, dan produk lainnya membuat sentra kulit Cibaduyut semakin memudar.
"Perlu adanya tata ruang di Cibaduyut, ini penting buat tetap menjaga imej Cibaduyut sebagai sentra produk kulit," kata Darwansyah Tanjung salah satu perajin kulit Dong Jung, di Cibaduyut, Senin (2/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu Cibaduyut dikenal sebagai barang yang berkualitas. Untuk
mengembalikannya perlu dibentuk sentra klasifikasi produk kelas sepatu, semacam zonasi produk. Kalau perlu ada akses tol langsung ke Cibaduyut," seru Darwansyah.
Kondisi saat ini kata dia, ramainya Cibaduyut hanya terjadi di akhir pekan, namun pada hari biasa relatif sepi. Bahkan saat hujan turun, tak jarang banjir akan melanda kawasan tersebut.
"Efeknya kalau tidak terkonsentrasi, maka imej Cibaduyut sebagai sentra kulit pudar," ucapnya.
Sementara itu Eko, salah satu pemilik toko Sepatu Diana mengatakan hal yang sama bahwa dengan kondisi saat ini membuat pengunjung menjadi malas singgah, walhasil omset pedagang semakin melorot.
"Ini ngaruh sama omset dari tahun ke tahun bisa turun 10%, memang kondisi sempat stabil di 2005-2006. Seingat saya ini sudah mulai terjadi semenjak krisis moneter 1998 lalu," ujar Eko. (hen/lih)











































