Kaltim Kebut Perbaikan Infrastruktur

Kaltim Kebut Perbaikan Infrastruktur

- detikFinance
Rabu, 04 Mar 2009 15:10 WIB
Kaltim Kebut Perbaikan Infrastruktur
Jakarta - Provinsi Kalimantan Timur terbilang propinsi kaya sumber daya alam namun miskin infrastruktur. Pemerintah provinsi pun akan menggenjot perbaikan sejumlah infrastruktur utama di wilayahnya.

Hal ini disampaikan Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Rabu (4/3/3009).

Sejumlah masalah infrastruktur utama di Kalimantan Timur adalah jalan darat, rel kereta api, pelabuhan dan bandara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masalah kita transportasi dan jalan, kondisinya rusak berat. Terutama trans kalimantan. Pak Wapres mengatakan itulah kemajuan kita yang tidak diimbangi dengan infrastruktur," katanya.

Begitu pula kondisi pelabuhan-pelabuhan yang ada di Kaltim. Pemprov berharap pelabuhan di Kaltim bisa segera diperbaiki. Jika sudah diperbaiki, maka pelabuhan-pelabuhan tersebut bisa menjadi outlet CPO.

"Seperti di Balikpapan, Samarinda, dan pelabuhan besar yang diusulkan jadi kawasan ekonomi khusus. Akan jadi outlet CPO untuk Kalimantan. Dengan cara seperti ini saya yakin akan mempercepat pertumbuhan ekonomi," katanya.

Pelabuhan udara pun tak luput dari perbaikan. Pelabuhan Sepinggan merupakan pelabuhan yang tersibuk keempat setelah Jakarta Surabaya dan Denpasar.

"Tapi kondisinya masih tertinggal. Landasannya yang masih 2.200 meter akan kita jadikan 3.100 meter. Pak Wapres, beliau sangat mendukung pembangunan infrastruktur," katanya.

Dengan perbaikan-perbaikan infrastruktur ini, maka perbatasan Kalimantan Timur dengan malaysia tidak lagi menjadi jalur belakang melainkan justru jadi pintu depan.

"Perbatasan kita dengan Malaysia ada 1.034 km, nanti tidak lagi di belakang tapi akan menjadi beranda," katanya.

Upaya-upaya tersebut juga disertai dengan pemberdayaan masyarakat di bidang perkebunan. Jika berjalan lancar, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia akan ditarik kembali agar bekerja sebagai pemilik kebun dengan sistem plasma.

"Dengan menjadikan HTI (Hutan Tanaman Industri), perkebunan, tenaga kerja kita yang menjadi pendatang haram di Malaysia akan kita tarik kembali, nanti pekerja itu di wilayah kita tidak hanya jadi pekerja, tapi juga pemilik kebun dengan sistem plasma," ujarnya.

Semua rencana perbaikan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia dan revitalisasi pertanian tersebut diharapkan bisa segera selesai.

Salah satu yang menjadi fokus perbaikan yang dikebut adalah jalur Trans Kalimantan yang ditargetkan selesai 2009.

"Infrastruktur Trans Kalimantan harus menjadi lebih baik. Kata Bappenas dan PU, 2009 akan tuntas. Tapi kalau lihat riilnya itu tidak akan tuntas. Kalau itu tidak diperbaiki, 5 hari baru bisa lewat. Pelabuhan udara dan laut kata Pak Wapres mudah-mudahan tahun 2010 akan tuntas," katanya.

Sedangkan untuk revitalisasi pertanian, tanaman pangan, perkebunan, perikanan, pemprov meminta kepastian hukum tata ruang.

"Ada tambahan 1,3 juta hektar, bisa untuk HTI, pulp and paper, dan karet. Ke depan Kaltim akan menjadi pusat agroindsutri dan energi
terkemuka," katanya.

Proyek Kereta Api Wahau Lubuk Tutung

Pemprov Kaltim juga sedang mengusahakan proyek Kereta Api Wahau Lubuk Tutung senilai US$ 900 juta yang akan digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti batubara, karet, CPO. Secara bertahap kereta api ini akan dikembangkan menjadi kereta penumpang.

"Oh iya, bertahap, KA khusus dulu kalau sudah jadi baru ditingkatkan jadi transportasi umum," katanya.

Masalah lain yang merudung Kalimantan Timur adalah defisit listrik yang masih melanda hingga 600 MW. Untuk mengatasinya, akan dibangun sejumlah pembangkit swasta (IPP/Independet Power Producer).

"Nanti malam ada pertemuan dengan PLN apa yang bisa kita bantu, pembangkit tenaga kita yang kecil," katanya.

Infrastruktur di perbatasan juga akan dimaksimalkan dengan membuka 7 entry poin dengan Malaysia.

Semua infrastruktur tersebut sangat penting untuk mengembangkan potensi yang ada di Kalimantan Timur. Seperti diketahui, daerah ini terkenal dengan hasil perkebunan dan pertambangannya.

"Kami berhasil mengembangkan perkebunan, ada 390.000 hektar dan otomatis jalan yang digunakan jalan yang rusak itu tadi. Itu bukan tambah baik, malah tambah rusak. Disamping itu juga masalah listrik. Kita kaya batubara, migas, tapi ironisnya kita masih miskin listrik. Seharusnya itu tidak boleh terjadi," katanya

(lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads