Mentan: Pasokan Pupuk Urea 2009 Kurang

Mentan: Pasokan Pupuk Urea 2009 Kurang

- detikFinance
Kamis, 05 Mar 2009 20:05 WIB
Mentan: Pasokan Pupuk Urea 2009 Kurang
Jakarta - Pemerintah memperkirakan ketersediaan pupuk urea tahun ini akan kurang dari kebutuhan. Namun impor baru akan mulai dipertimbangkan jika cadangan pupuk tidak mencapai 500.000 ton.

Demikian disampaikan Menteri Pertanian Anton Apriyantono usai rapat dengan Wapres JK tentang panen raya dan musim tanam di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (5/3/2009).

"Kalau perencanaan satu tahun, diperkirakan pupuk urea akan kekurangan. Perlu cadangan 500.000 ton, apabila stok nasional di bawah 500.000 itu indikasi adanya impor pupuk," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Anton tidak menjelaskan lebih lanjut kapan pastinya cadangan pupuk nasional jatuh di bawah 500.000 ton sehingga akhirnya impor harus dilakukan. Yang pasti, untuk kebutuhan dalam beberapa minggu ke depan, Dirut Pupuk Sriwijaya Dadang Heru Kodri memastikan pasokan pupuk akan stabil.

"Pupuk urea bersubsidi dan nonsubsidi mencukupi. Stok untuk urea 240.000 ton untuk 3 minggu. Sekarang kita punya 620.000 ton. Pupuk sudah tersedia hingga di lini 3 yaitu kabupaten, mencukupi. Kelonggaran 20 persen kalau ada permintaan di daerah jika kosong," kata Dadang.

Lebih lanjut Anton menyatakan stok pupuk di tingkat produsen dalam kondisi cukup. Namun ia mengakui distribusi pupuk di tingkat masyarakat masih belum merata. Distribusi yang tidak merata terutama terjadi untuk perkebunan rakyat.

"Persiapan tanam dan evaluasi hasil penanaman Januari-Februari terkait dengan ketersediaan pupuk. Kalau untuk tanaman pangan, hasil pantauan kami tidak terlalu banyak bermasalah. Produsen pupuk melaporkan stoknya besar sekali. Memang distribusi belum merata untuk keperluan rakyat. Masalah distribusi bulan Maret, utamanya untuk
perkebunan rakyat, itu bagaimana kita akan meratakan itu," ujar Anton.

Sementara itu Dadang kembali mengatakan, karena masa panen yang belum banyak, hal ini mempengaruhi distribusi raskin yang sebagian belum bisa disalurkan.

"Panen belum banyak, pengaruhnya raskin belum bisa disalurkan sampai bulan Februari. Raskin 180.000 ton atau 22 persen target 2009," kata Dadang.

(nwk/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads