Hal ini disampaikan Direktur Refor-Miner Institute Priagung Rakhmanto saat berbincang detikFinance, Jumat (6/3/2009).
"Yang bisa bikin harga minyak naik drastis ke US$ 70 per barel atau lebih itu bukan karena OPEC," ujar Priagung.
OPEC disarankan memotong produksi di atas satu juta barel pada pertemuan OPEC 15 Maret 2009. Pemotongan sebesar itu diperlukan jika ingin harga minyak dunia kembali ke level US$ 70 per barel.
Menurut Priagung, harga minyak akan naik secara signifikan ketika pelaku pasar sektor finansial dunia sudah mulai lagi menggunakan uangnya untuk bermain di komoditas berjangka seperti minyak di New York Mercantile Exchange (NYMEX).
"Dari hitungan Refor-Miner walaupun OPEC memangkas produksinya sampai dengan 4 juta barel lagi pun, namun jika tidak direspons pelaku pasar bursa berjangka paling hanya akan mengangkat harga minyak sekitar US$ 5-8 per barel. Jadi paling hanya akan ke level US$ 50-55 per barel," papar Priagung.
Menurut Priagung, pulihnya kondisi ekonomi dan sektor finansial global lah yang akan menggerakkan harga minyak secara signifikan.
"Adapun OPEC, pergantian musim, naik turunnya stok minyak AS, jika tidak direspons pelaku pasar komoditas berjangka tidak akan memberikan dampak signifikan. Tapi kalau ada perang atau ketegangan geopolitik, ya lain lagi ceritanya," tandasnya.
Harga minyak di New York pada penutupan perdagangan Kamis waktu AS (5/3/2009) untuk jenis light sweet antaran April turun US$ 1,77 menjadi US$ 43,61 per barel. Sedangkan harga minyak di London jenis Brent untuk pengiriman April turun US$ 2,48 menjadi US$ 43,64 per barel.
(epi/ir)











































