Hal itu disampaikan Gubernur Bank Sentral Luksemburg Yves Mersch dalam jamuan makan malam dengan Menlu Hassan Wirajuda di Luksemburg, Kamis malam atau Jumat (6/3/2009) WIB, seperti dituturkan Iwan Nur Hidayat kepada detikfinance siang ini waktu Eropa Tengah.
Menlu didampingi oleh Dubes RI Brussel Nadjib Riphat Kesoema, Dirjen Amerop Deplu Retno LP Marsudi dan Direktur Eropa Barat Dewa Made Sastrawan. Di pihak Luksemburg ikut mendampingi Gubernur Mersch antara lain Direktur Bank Sentral Luksemburg Serge Kolb, Dubes terpilih Luksemburg untuk Indonesia Marc Ungeheuer, dan Direktur Hubungan Ekonomi Internasional Jean Graff.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diutarakan oleh Gubernur Mersch bahwa dampak krisis keuangan yang cukup mendalam membutuhkan pendekatan sistemik berlandaskan peran aktif dan tanggung jawab bersama seluruh pelaku ekonomi dunia.
Sependapat dengan Mersch, Menlu Wirajuda menggarisbawahi dampak krisis keuangan global terhadap pembangunan sejumlah negara berkembang. Dalam konteks tersebut Wirajuda menjelaskan usulan Indonesia mengenai pembentukan Global Expenditure Support Fund melalui bank-bank pembangunan multilateral sebagai mekanisme pembiayaan tanggap darurat dalam rangka menanggulangi dampak krisis.
KTT G20
Berkenaan dengan hal tersebut, tambah Wirajuda, Indonesia akan berperan sebagai co-chair dalam KTT G20 di London yang akan dimulai pada awal April mendatang.
Pembicaraan kemudian mengerucut pada pentingnya aspek akuntabilitas dan saling berbagi informasi untuk menghindari ekses negatif yang merugikan seluruh kalangan.
Terkait dengan pembahasan dampak krisis global, Mersch menyatakan dukungannya kepada Wirajuda agar Indonesia sebagai salah satu representasi negara berkembang dapat terus mempertahankan peran dan kontribusi substantifnya dalam forum G20.
Pembicaraan juga membahas mengenai kerjasama antarlembaga terkait, terutama dalam aspek peningkatan kapasitas melalui pertukaran pelajar, dosen dan para ahli di bidang teknologi komunikasi dan informasi, yang menjadi tulang punggung pemajuan jasa-jasa perbankan.
Sebagai catatan, Luksemburg merupakan salah satu negara poros perbankan global terutama dalam aspek pengelolaan reksadana dan dana investasi berjangka.
Babak Baru
Pertemuan Menlu Hassan Wirajuda dengan Gubernur Bank Sentral Mersch tersebut dalam pandangan Dubes Nadjib Riphat Kesoema merupakan suatu wujud babak baru hubungan bilateral Indonesia β Luksemburg yang lebih mesra dan lebih konkrit.
Dikatakan, hasil-hasil pembicaraan Menlu dan Gubernur Bank Sentral tersebut akan ditindaklanjuti oleh KBRI Brussel dalam rangka pelaksanaan diplomasi ekonomi, sejalan dengan instruksi Presiden untuk mencari dan mengelola berbagai peluang dan kesempatan yang membawa manfaat bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.
Selain dengan Gubernur Bank Sentral Luksemburg, Menlu juga direncanakan untuk bertemu dengan sejumlah figur kunci negara tersebut, yaitu PM Jean Claude Juncker, Menlu Jean Asselborn dan Ketua Komisi Luar Negeri Parlemen Ben Fayot. (es/es)











































