"Pemerintah tidak usah takut untuk menurunkan premium dan solar ke Rp 4.000/liter," ujar pengamat perminyakan Kurtubi saat dihubungi detikFinance, Minggu (8/3/2009).
Menurut Kurtubi, salah satu kekhawatiran pemerintah adalah fluktuasi harga minyak mentah dunia yang cukup ekstrem, terutama mengingat melonjaknya harga minyak mentah dunia di tahun 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malah, Kurtubi melanjutkan, jika pemerintah kembali menurunkan harga BBM premium dan solar ke level Rp 4.000/liter, dipastikan bakal memberikan stimulus bagi daya beli masyarakat dan menekan angka inflasi.
"Jika BBM diturunkan, daya beli masyarakat akan naik dan bisa menekan angka inflasi," ujarnya.
Mengenai rencana OPEC kembali memangkas produksinya dalam pertemuan yang akan digelar Maret 2009, Kurtubi memastikan hal itu tidak akan mampu mendongkrak harga minyak ke level US$ 70/barel seperti yang diharapkan. Menurut Kurtubi, tingkat kepatuhan anggota-anggota OPEC dalam melaksanakan keputusan pemotongan produksi sulit dilakukan. Realisasi kebijakan OPEC dinilai sering tidak dapat dilaksanakan sesuai keputusan.
"Pemangkasan yang akan dilakukan OPEC sejak September sebesar 4,2 juta bph tapi realisasinya kurang dari separuh yaitu hanya 2 juta bph. Sebenarnya pasarpun tahu kalau realisasi rencana itu kecil sekali kecuali pemotongannya secara signifikan dan anggota OPEC taat pada hasil sidang OPEC," jelasnya.
Kurtubi mengatakan, untuk bisa menggiring harga minyak ke level US$ 70/barel, OPEC harus memangkas produksi hingga 7-8 juta barel per hari. "Artinya masih harus direalisasikan pemotongan lagi sebanyak 4-5 juta barel per hari," ujarnya.
OPEC pun sepertinya tidak akan mengagendakan pemangkasan produksi dalam pertemuan yang rencananya digelar bulan ini. (dro/dro)











































