"Kekurangan itu muncul krena kreditor swasta menghindari pasar negara berkembang (emerging markets) dan hanya seperempat dari negara-negara yang paling rentan yang memiliki sumber-sumber untuk mencegah bertambahnya kemiskinan," demikian pernyataan dari Bank Dunia seperti dikutip dari AFP, Senin (9/3/2009).
Pernyataan itu disampaikan Bank Dunia dalam studinya, yang disampaikan menjelang pertemuan tingkat menteri negara G20 di London pada 13-14 Maret 2009 mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita perlu bereaksi setiap saat atas meningkatnya krisis yang dapat menyengsarakan melukai masyarakat di negara-negara berkembang," ujar Presiden Bank Dunia Robert Zoellick.
Zoellic menyerukan lebih banyak investasi untuk jaring-jaring pengaman masyarakat, infrastruktur dan UKM. Zoellick pada Februari lalu juga menyerukan agar setiap negara berkembang menyisihkan 0,7% anggarannya untuk paket stimulus.
Pemerintah Indonesia sendiri baru-baru ini mendapatkan persetujuan dari DPR untuk paket stimulus hingga US$ 71,3 triliun. Dan yang akan segera direalisasikan adalah paket stimulus infrastruktur senilai Rp 12,2 triliun.
Untuk pendanaan, pemerintah Indonesia baru-baru ini berhasil mendapatkan pendanaan dari global melalui penerbitan Global Medium Term Notes (GMTN) senilai US$ 3 miliar. Dan yang akan segera menyusul adalah sukuk global yang nilai awalnya US$ 500 juta.
(qom/qom)











































