"Contoh kasat mata adalah, setiap penurunan suku bunga, industri kecil hanya kebagian ampasnya," kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa dalam siaran persnya menjelang Sidang Dewan Pimpinan HIPMI, Senin (9/3/2009).
Ia menjelaskan, pelaku industri kecil tidak memiliki kemampuan lobi seperti pengusaha besar. Akibatnya, industri kecil tetap mendapatkan pinjaman perbankan dalam jumlah yang kecil namun dengan bunga yang besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erwin meminta agar perbankan menyatakan keberpihakannya kepada industri kecil dengan menurunkan suku bunga pinjaman yang saat ini masih diatas 16%. Padahal, korporasi mendapat bunga sangat rendah.
Ditambah lagi, kata Erwin, maraknya penyeludupan dan kurangnya kebijakan yang berpihak kepada industri kecil dalam negeri membuat produk Indonesia semakin tidak bisa bersaing dibandingkan Tiongkok.
"Kita beli kaos satu potong dengan harga Rp 5.000 dari Tiongkok, disini harganya mencapai Rp 15.000, bagaimana industri kecil kita dapat bersaing?" kata Erwin.
Dikatakan Erwin lagi, ketidakadilan juga menimpah industri kecil dilihat dari minimnya insentif dari pemerintah dibandingkan perusahaan besar.
"Padahal mereka yang membuat ekonomi kita bisa bertahan, kok insentifnya tidak ada," tambah dia.
Untuk itu, pemerintah harus mencontoh pemerintah Tiongkok dapat merangsang ekspor secara masal dari industri kecil melalui berbagai paket kebijakan dari pabrik sampai ke pelabuhan ekspor.
Kemandirian Ekonomi
Erwin menambahkan, HIPMI akan memperjuangkan gerakan "Kemandirian ekonomi nasional tanpa bergantung kepada asin" ke depan. Industri nasional, dikatakan Erwin harus mampu mengisi pasar nasional dan bukan diisi oleh produk luar.
"Tema Sidang Dewan Pleno HIPMI yang dimulai besok akan menggerakan kemandirian ekonomi nasional," kata Erwin.
Rencananya, SDP HIPMI akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Selasa (10/3/2009).
(qom/qom)











































