Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu ketika ditemui di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (10/3/2009).
"Kebutuhannya kan sangat besar dibagi-bagi menurut kontribusinya, kurang lebih Rp 400 miliar per tahun mulai dari 2010 dalam waktu 5 tahun. Artinya kita membayar sekitar Rp 400 miliar tapi kita mendapatkan bisa sampai US$ 1 miliar, artinya kita membayar iurannya tapi kita mendapatkan jauh lebih besar manfaatnya," tuturnya.
Anggito menambahkan dengan sebagai pemegang saham nomor enam terbesar di ADB, Indonesia siap menambahkan modal ADB yang dananya berasal dari APBN mulai 2010.
"Tapi jangan dihitung dari sisi APBN saja tapi dari sisi kita mendapatkan fasilitas untuk kontijensi (pinjaman siaga) jauh lebih besar daripada biaya yang kita alokasikan dari APBN, kan kita kurang lebih dapat US$ 1 miliar jadi kalau kita mendapatkan dana segitu tanpa ada syarat untuk keperluan kalau ada krisis itu berarti mengamankan APBN kita," pungkasnya. (dnl/lih)











































