Hal itu dikemukakan oleh Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo dalam acara Annual Citi Indonesia Economic and Political Outlook Seminar, Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (11/3/2009)
"Kebijakan stimulus yang penting adalah bukan besarannya, tapi arah dan timing. Karena yang diharapkan adalah multiplier efeknya," katanya.
Ia juga mengatakan, mengenai penurunan tingkat suku bunga seharusnya Indonesia tidak banyak menurunkan tingkat suku bunganya karena termasuk negara berkembang. Berbeda dengan negara maju yang bisa memotong suku bunga tanpa khawatir resiko lain.
"Kalau negara berkembang kan harus mempertimbangkan inflasi dan nilai tukar rupiah dan banyak hal lain yang termasuk counter cyclical ekonomi," ujarnya.
Menurutnya, Indonesia tidak harus menurunkan suku bunga ketika negara maju menurunkan suku bunganya, karena resiko bahaya yang akan dihadapi jelas berbeda.
(ang/qom)










































