Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam Pameran International Furniture And Craft Fair Indonesia (IFFINA) 2009 di Arena PRJ, Kemayoran, Jakarta, Rabu (11/3/2009).
"Saya yakin industri furnitur kita mempunyai pasar yang baik diluar dan didalam negeri, tahun ini kita akan menargetkan ekspor industri furnitur kayu dan rotan sebesar US$ 2,5 miliar sampai US$ 3 miliar,” ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Produsen kita terus mempertahankan pasar, masalah pada industri furnitur di Indonesia yaitu terdiri dari desain, teknologi serta dukungan dari pemerintah," ujarnya.
Fahmi menjelaskan, pertumbuhan rata-rata ekspor produk furnitur kayu dan rotan selama 5 tahun terakhir mencapai 2,34 persen per tahun dengan nilai ekspor pada tahun 2008 sebesar US$ 2,5 miliar.
"Melakukan promosi melalui pameran-pameran yang bertaraf internasional baik di dalam negeri seperti IFFINA merupakan suatu langkah yang cukup baik, selain mendorong penggunaan teknologi proses yang lebih efisien dan peningkatan kemampuan teknologi dan memanfaatkan peralatan yang modern,” paparnya.
Fahmi juga menjelaskan bahwa pada dasarnya Indonesia merupakan negara tropis yang memilik areal hutan yang cukup luas dengan potensi hasil hutan berupa kayu dan rotan yang cukup besar.
"Dari keterangan yang saya dapatkan tadi, pameran IFFINA ini memadukan kelompok furnitur kayu, rotan dan kombinasi (kayu dan rottan) dan para buyer telah membuat kontrak yang cukup bagus saya harapkan melalui pameran ini industri furnitur kita akan bangkit,” tandasnya.
(dru/lih)










































