Demikian disampaikan Kepala BPH Migas Tubagus Haryono kepada wartawan di Kantor BPH Migas, Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Rabu (11/3/2009).
"Pada tahun 2008, kami telah melakukan kajian gas kota di sembilan kota
yaitu Lhoksumawe, Jambi, Prabu mulih, Semarang, Tarakan, Samarinda, Bontang, Balikpapan dan Sorong," ujarnya. Tubagus menyebutkan berdasarkan hasil kajian tersebut volume gas bumi yang dibutuhkan sekitar 12,69 mmscfd.
"Secara umum, kebutuhan atau volume gas bumi masing-masing daerah tidak banyak," kata Tubagus.
Berdasarkan kajian BPH Migas, Lhoksumawe membutuhkan 0,53 mmscfd gas bumi, Jambi 2,3 mmscfd Prabu Mulih 0,76 mmscfd, Semarang 2 mmscfd, Tarakan 1,7 mmscfd, Samarinda, 1 mmscfd, Balikpapan 3 mmscfd, Bonntang 1 mmscfd dan Sorong 0,4 mmscfd.
Tubagus menyatakan pihaknya juga telah melakukan perbandingan antara penggunaan gas kota dengan penggunaan elpiji 3 kg, 12 kg dan minyak tanah.
"Perhitungan ekonomis kita bandingkan antara gas kota dengan LPG 3 kg, LPG 12 kg, dan minyak tanah," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil kajian ini akan kami komunikasikan ke pemerintah daerah," ungkapnya.
Tubagus menjelaskan pasokan gas untuk wilayah-wilayah tersebut sejauh ini tidak masalah karena ada sumber gas yang dekat atau bisa dihubungkan dengan pipa ke ruas transmisi terdekat.
"Misal ruas transmisi Grissik-Duri atau untuk Prabumulih, diambil dari pipa transmisi SSWJ," katanya.
(epi/lih)










































