Â
Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu (11/3/2009).
Â
"Dalam G20 akan di propose bagaimana peranan dari bank pembangunan seperti WB, ADB, Inter American Development Bank, African Development Bank, IDB untuk meningkatkan jumlah lending mereka. Selama itu masih memungkinkan dari sisi capital mereka. Makanya ADB minta dinaikkan sampai (modal) dengan dua kali lipat. Jumlah yang sekarang ada hanya mungkin mencapai US$ 150 miliar tetap akan ada short," tuturnya.
Â
Sri Mulyani mengatakan likuiditas dolar saat ini menurun tajam kepada sektor swasta karena ada persepsi perusahaan-perusahaan menjadi tidak sehat sehingga tidak terjadi peningkatan aliran modal ke emerging market.
Â
"Ini yang menyebabkan kenapa global economic outlook pasti akan menurun. Karena tidak mungkin ada yang men-subtitute hari ini. Normalisasi inilah yang sedang diupayakan oleh para menteri keuangan," paparnya.
Â
Selain itu, dalam pertemuan G20 di London pada Jumat, Sabtu, dan Minggu pekan ini akan juga dibahas mengenai penyehatan perbankan di AS dan Eropa.
Â
"Terutama tidak hanya keputusan bailout tapi sekarang adalah meng-clean up atau membersihkan neracanya secara cepat. Karena kalau sudah di bailout kemudian dia tidak normal kan dia tidak berfungsi, kalau tidak berfungsi seluruh dunia juga akan mengalami hambatan untuk menormalisir kegiatan ekonomi karena banyak sekali proses intermediary function dari bank-bank tersebut nggak berjalan," paparnya.
Â
Dalam pertemuan G20 salah satu yang dibahas secara lebih detail oleh beberapa menteri keuangan dan bank sentral adalah treatment atas toxic asset di perbankan.
"Karena itu adalah salah satu bagian dari kanker yang harus segera keluar dari neraca bagaimana cara penyelesaian mereka. Sehingga bank itu kemudian segera punya neraca sehat dan melakukan lending activities. Itu yang akan menjadi focus," ujarnya.
Â
Oleh karena itu, kalau masalah perbankan ini tidak bisa tertangani, dampaknya terhadap seluruh dunia termasuk Indonesia. "Terutama trade financing turun, roll over risk dari berbagai perusahaan-perusahaan yang pinjam akan meningkat karena bank tidak mampu untuk memperpanjang pinjamannya, karena dia sendiri sedang membutuhkan cash," katanya.
Â
Risiko ini akan membuat banyak perusahaan yang tadinya tidak macet menjadi macet dan dipaksa untuk membayar utangnya pada saat sekarang. Sudah dilihat oleh banyak menteri keuangan di region ini maupun di seluruh dunia ini akan kita tangani.
Â
(dnl/lih)











































