Hal ini disampaikan Deputi Kerjasama dan Investasi Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo), Suhendro dalam
'Rapat Roadmap pemberdayaan UMKM khusus untuk kawasan Outsourching dan Factoring' di Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu, Sabtu (14/3/2009).
"Dari 8.500 pasar tradisional yang ada di Indonesia, 80 persen bangunannya sudah berusia di atas 20 tahun sehingga perlu direvitalisasi," ujar Suhendro.
Suhendro mengakui meskipun pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran untuk merevitaliasi pasar namun anggaran tersebut dinilai masih kurang memadai untuk revitalisasi pasar-pasar tersebut.
"Meskipun kami mendapatkan anggaran dari APBN dan stimulus untuk melakukan revitalisasi pasar, namun karena itu dibagi-bagikan kepada 8.500 pasar sehingga angkanya sangat kecil sekali," ungkapnya.
Untuk itu, Suhendro meminta agar perbankan mau menyalurkan dananya dalam membantu merevitalisasi pasar tradisional.
"Kami sudah mencoba melakukan pendekatan namun ada kendala seperti bank minta sertifikat kepemilikan yang dijaminkan lebih tinggi yaitu hak pakai lahan dan hak guna bangunan, sedangkan banyak pedagang yang hanya memiliki sertifikat hak pakai," ungkapnya.
Suhendro berharap adanya bank yang ditunjuk secara khusus oleh pemerintah untuk melakukan revitalisasi pasar dan memberikan kredit modal kerja. Sebab pasar merupakan sentra ekonomi rakyat yang bisa menyerap 10 juta orang tenaga kerja.
"Kita berharap ada kerjasama dengan bank khusus untuk revitalisasi ini karena setelah pasar sudah jadi, akan banyak tenaga kerja yang terserap disana. Saat ini dari 8.500 pasar tradisional terdapat 10 juta pedagang, itu belum ditambah dengan yang informal," tandasnya. (epi/ir)











































