Perdagangan Indonesia-Myanmar Terganjal Sistem Perbankan

Perdagangan Indonesia-Myanmar Terganjal Sistem Perbankan

- detikFinance
Senin, 16 Mar 2009 18:35 WIB
Perdagangan Indonesia-Myanmar Terganjal Sistem Perbankan
Jakarta - Perdagangan Indonesia dengan Myanmar hingga saat ini masih terganjal sistem perbankan sehingga perdagangan kedua negara kurang berdaya saing. Selama ini perdagangan kedua negara masih melalui negara pihak ketiga yaitu Singapura dalam hal jasa perbankan dan sistem transportasi.
 
Untuk itu Indonesia dan Myanmar sepakat membangun sistem perdagangan langsung untuk mendorong kerjasama ekonomi antar dua negara dalam masalah sistem perbankan dan transportasi perdagangan langsung.
 
Wakil Duta Besar Indonesia untuk Myanmar bidang ekonomi Gopokson Situmorang mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pendekatan dengan Bank Indonesia (BI) untuk melakukan pembicaraan dengan bank sentral Myanmar.
 
"Kita upayakan ada direct banking dan direct transport antara Indonesia dan Myanmar," katanya.
 
Diharapkan Bank Sentral Myanmar dapat menghubungkan perbankan Indonesia dengan Myanmar Economic Bank (MEB), Myanmar Foreign Trade Bank (MFTB) dan Myanmar Investment and Commercial Bank (MICB) yang selama melayani transaksi ekspor dan impor, termasuk di Singapura.
 
"Dengan Indonesia belum ada, makanya harus kita usahakan," jelasnya.
 
Sementara itu, Deputi Dirjen Departemen Perdagangan Myanmar, Myo Oo mengakui masalah perbankan masih menjadi penghambat dalam hubungan dagang dua negara.
 
"Kami tidak bisa bertransaksi dengan dolar karena sanksi AS, jadi kami menggunakan Euro atau mata uang lainnya seperti Dolar Singapura," katanya.
 
Dikatakannya Indonesia masih merupakan 10 besar mitra dagang Myanmar setelah Thailand, India, China, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Malaysia dan beberapa negara ASEAN lainnya.
 
Sedangkan Ketua Kadin Komite Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam, Juan Gondokusumo menambahkan bahwa perlu adanya upaya terobosan untuk menghadapi masalah ini meskipun memang akan memerlukan waktu.
 
"Kami akan membuat MoU bersama mengenai masalah apa saja yang akan diperbaiki dalam memecahkan masalah ini," ujarnya. (hen/lih)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads