"Kalau saya pikir uang Pertamina paling terakhir buat kilang karena selain investasinya mahal, marginnya rendah sekali dan risikonya tinggi. Uang Pertamina bisa digunakan untuk hal lain yang lebih produktif, yang lebih kasih hasil," ungkap Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil kepada wartawan, di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 10, Jakarta, Selasa (17/3/2009)
Namun, lanjut Sofyan, jika Pertamina terpaksa membangun kilang maka Pertamina harus melakukan efisiensi. "Yang penting kalau Pertamina terpaksa membangun kilang, Pertamina harus bangun secara efisien karena Pertamina terkenal tidak efisien membangun kilang," ungkapnya.
Untuk pembangunan kilang, imbuh Sofyan, ada tiga opsi yang bisa diambil."Apakah Pertamina melakukan investasi sendiri? Atau dengan pihak ketiga atau pihak ketiga semuanya," imbuh Sofyan.
Sofyan menjelaskan sebenarnya banyak pihak swasta yang memiliki keinginan untuk membangun kilang namun mereka mengurungkan niat karena kurangnya insentif dari pemerintah.
"Kita inikan defisit produk, sekitar 35 persen kita impor tiap hari. Dipihak yang lain, banyak pihak yang mau bikin kilang, tapi tidak ada satupun yang terealisasi katanya insentifnya kurang meskipun ada PP yang baru, tapi sepertinya kurang memadai," ujar Sofyan.
Faktor lainnya, kata Sofyan, para investor ini juga meminta jaminan pembeli (off taker)dari dalam negeri jika kilang tersebut telah dibangun. Banyak pihak meminta off taker dari Pertamina karena selama ini harga produk BBM disubsidi sehingga mereka tidak bisa jual ke dalam negeri, kecuali Pertamina melakukan off taker dari mereka.
"Satu-satunya jalan mereka bisa bangun kalau ada jaminan off taker. Sekarang kita lihat PLN itu off taker dari IPP (Independent Power Producer), Pertamina de facto tapi jadi off taker dari Singapura. Daripada beli dari Singapura, lebih baik beli dari dalam negeri karena dari segi harga itu jauh lebih baik daripada beli harga dengan MOPS di Singapura," paparnya. (epi/ir)











































