Hal ini dapat terjadi bila adanya penurunan kredit perbankan bagi sektor pertanian hingga 8 persen atau mendekati BI Rate sebesar 7,75%.
"Industri makanan dan minuman yang diprediksikan naik 12 persen, sebenarnya bisa lebih besar lagi pertumbuhannya bila dapat dukungan dari perbankan," ujar Ketua umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Thomas Dharmawan seusai menjadi pembicara dalam seminar Seminar Prospektif Bisnis 2009 di hotel Nikko Jakarta, Selasa (17/3/2009).
Ia menjelaskan bahwa tingginya suku bunga kredit bagi pertanian yang mencapai 13% masih menjadi faktor utama tingginya bahan baku produksi bagi industri makanan.
"Dengan tingginya bahan baku industri, maka pertumbuhan industri makanan dan minuman akan tetap berada diangka 10-12%. Apalagi kalau melihat kecenderungan harga komoditas yang diprediksikan akan naik, maka pertumbuhan industri ini bisa jadi akan lebih menurun," paparnya.
Jika suku bunga kredit perbankan, lanjut Thomas, khususnya pada sektor pertanian dapat turun sesuai dengan BI Rate, maka pertumbuhan industri makanan dan minuman bisa lebih optimal. "Bila hal itu terjadi maka bisa di atas prediksi sekarang yang 12%," tegasnya.
Gapmmi memprediksikan untuk tahun ini akan ada 600 restoran yang terancam akan tutup karena tingginya beban pajak serta ditambah tingginya biaya distribusi barang dan adanya aturan mengenai pengetatan bahan baku impor.
"Biaya distribusi bahan baku Indonesia tercatat paling mahal, yakni sebesar US$ 34 cent/km jika dibadingkan dengan Thailand, Vietnam, China yang berada di U$$ 22 cent/km," tambahnya.
Namun, Thomas melihat pertumbuhan industri makanan dan minuman saat ini masih ditopang dari meningkatnya pertumbuhan dari produk multinasional yang membuka berbagai pasar baru disegmen menengah ke bawah.
"Inovasi produk seperti efisiensi kemasan untuk konsumsi harian, menjadi buruan bagi pengsa pasar menengah ke bawah, selain itu langkah ini dapat mengurangi biaya produksi," ucapnya.
Untuk itu, lanjut Thomas, agar industri ini dapat bertahan, maka strategi pemasaran seperti renovasi produk, kompetensi tenaga kerja dan peningkatan SDM harus lebih dioptimalkan kembali.
(dru/ir)











































