Julukan 'Teh Botol' diberikan oleh pengamat ekonomi Indef Iman Sugema. 'Teh Botol' yang dimaksud bukan merek minuman ringan yang ngetop itu, namun 'Teh botol' yang dimaksud adalah singkatan dan teknokrat bodoh dan tolol.
"Siapapun presidennya, sekarang atau nanti, tim ekonomi Indonesia itu teh botol," ujar Iman di sela-sela peluncuran buku Ekonomi Konstitusi, di Hotel Four Season Kuningan, Jakarta, Rabu (18/3).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Statistik menunjukan tingkat utang publik per bulan sangat tinggi. Bahkan terbesar sepanjang sejarah.Meski rasio turun tapi beban per kapita tertinggi sepanjang sejarah," ujarnya.
Salah satu kemunduran ekonomi lainnya, terlihat ari deindustrialisasi atau penurunan daya saing pasca krisis. Ia mengatakan, penyebabnya adalah kebijakan yang mendorong liberalisasi, contohnya seperti ekspor rotan mentah yang membuat pengrajin lokal gulung tikar, sementara China malah jadi eksportir besar.
Ia menambahkan, selama mengamati kondisi ekonomi Indonesia saat ini, ia menyimpulkan lima hal menggambarkan kondisi indonesia saat ini, yakni kesengsaraan, kesenjangan, ketergantungan, kerentanan dan kerusakan.
"Kerentanan terlihat di langkanya sumber daya alam, energi. Struktur finansial kita juga belum terlalu kuat. Kita tersangkut krisis karena struktur finansial belum kuat dilihat dari pelemahan nilai tukar," ujarnya.
Sedangkan kerusakan bisa terlihat dari banyak eksploitasi sumber daya alam dalam negeri yang dilakukan oleh pihak asing atas kebijakan pemerintah.
(ang/qom)











































