Utang yang jatuh tempo tersebut terdiri dari utang jangka pendek sebesar US$ 17,4 miliar termasuk bunga US$ 2 miliar, dan utang yang berasal dari trade financing sebesar US$ 5,2 miliar.
Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono dalam acara seminar moneter di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (19/3/2009).
"Dari US$ 17,4 miliar itu, 31% berasal dari perusahaan induk atau afiliasinya sehingga kemungkinan rollover semakin besar. Lalu 57% merupakan utang perusahaan asing atau joint venture yang sudah punya source of financing," tuturnya.
Hartadi menyadari sulitnya dilakukan roll over atau perpanjangan jatuh tempo utang di tengah krisis saat ini, karena banyak pihak yang juga tengah memerlukan likuiditas.
"Karena itu BI akan terus melakukan survei mengenai kemampuan untuk roll over dari utang-utang luar negeri swasta ini," ujarnya. (dnl/qom)










































