Demikian disampaikan oleh Direktur Ritailer Service AC Nielsen Yongky Surya Susilo dalam acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/3/2009).
Menurutnya, industri ritel modern dan tradisional menopang pertumbuhan industri ritel secara keseluruhan yang sebesar 21,1%. Pertumbuhan 21,1% ini mencakup nilai penjualan Rp 95,3 triliun untuk 54 produk kategori AC Nielsen. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2007 yang hanya mencapai 15,2%.
"Modern naik 23,6%, toko tradisional naik 19,6%. Untuk tradisional nggak pernah sampai setinggi ini, paling tinggi sebelumnya 12%, atau paling 9%," jelasnya.
Selain itu, pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi ritel modern berupa distribusi dan promosi, pertumbuhan belanja iklan naik 19%, perubahan gaya hidup belanja, inovasi produk mengikuti kebutuhan konsumen, dan ditopang pula kenaikan penjualan pada masa Lebaran sebesar 32%.
"Keadaan ini ternyata tidak membuat industri ritel Indonesia turun dari ranking top 2 di Asia Pasifik," jelasnya.
Padahal negara-nagara lain seperti Korea dan Taiwan pada 2008 mengalami pertumbuhan minus, karena dampak krisis.
Hasil merupakan studi AC Nielsen di 5 kota seperti Jakarta(Botabek), Bandung, Surabaya, Semarang dan Medan.
(hen/lih)










































