Β
Demikian disampaikan oleh Direktur Ritailer Service AC Nielsen Yongky Surya Susilo dalam acara konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/3/2009).
Β
Dikatakannya, meski pada tahun 2008 diawali dengan kenaikan harga makanan yang tinggi, justru membuat pelaku ritel dalam negeri sangat waspada dalam membangun strategi. Akibatnya daya beli konsumen kelas atas pun masih terjaga walau ada beberapa aspek yang membuat penurunan pertumbuhan.
Β
"Meski indeks kepercayaan konsumen menurun, daya beli konsumen kelas bawah menurun dan penetrasi belanja ke ritel moderen juga turun, tidak membuat industri ritel Indonesia turun dari ranking top 2 Asia Pasifik," katanya.
Β
Yongky mengatakan dari posisi sepanjang bulan Januari-November 2008 dari periode yang sama tahun 2007 pertumbuhan ritel China di Asia Pasifik masih memimpin di tempat teratas dengan pertumbuhan penjualan 22% dan Volume 10,4%, disusul oleh Indonesia, India dan Singapura.
Β
Sedangkan Hongkong mengalami pertumbuhan nilai penjualan sebesar 9.9% dan volume 0,5%. Kemudian India 18,4% untuk penjualannya, 6,6% untuk volumenya. Indonesia untuk penjualannya tumbuh 20,6% dan volume 4,5%, Malaysia penjualan tumbuh 11,8% volume 3% lalu Filipina hanya tumbuh penjualannya 7,7% volumenya 3,6% Singapura penjualan tumbuh 11,9% dan volume 5,8% dan Thailand penjualannya tumbuh 8% dan volume 3,3%.
Β
Sedangkan dua negara Asia Pasifik yang mengalami pertumbuhan minus yaitu Korea Selatan yang mengalami pertumbuhan minus volume sebesar 5,1% dan penjualan 9,7% dan Taiwan secara penjualan turun 3,4% dan volume 7,3%.
Β
"Pertumbuhan yang minus ini tidak terlepas dari dampak krisis," jelasnya.
(hen/lih)











































