Konversi Elpiji Hemat Subsidi Rp 12,48 Triliun dalam 2 Tahun

Konversi Elpiji Hemat Subsidi Rp 12,48 Triliun dalam 2 Tahun

- detikFinance
Jumat, 20 Mar 2009 12:44 WIB
Konversi Elpiji Hemat Subsidi Rp 12,48 Triliun dalam 2 Tahun
Jakarta - Setelah berjalan 2 tahun, program konversi minyak tanah ke elpiji akan menghasilkan penghematan Rp 12,48 triliun. Jika program konversi sudah selesai, maka penghematannya bisa mencapai Rp 40-50 triliun.

Berdasarkan data Pertamina, sepanjang periode 2007-2008 program ini berhasil menghemat subsidi BBM Rp 5,23 triliun. Untuk tahun 2009, jika target konversi terpenuhi, penghematan yang dihasilkan Rp 7,25 triliun.

Penghematan sebesar ini dihasilkan melalui konversi pemakaian minyak tanah oleh 50 juta rumah tangga dengan elpiji. Jika program ini ditargetkan selesai dalam 3 tahun, artinya setiap tahun ada 15 juta rumah tangga yang harus dikonversi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Wapres Jusuf Kalla, inilah program konversi terbesar sepanjang sejarah dunia.

"Ini konversi terbesar dalam sejarah dunia. Dalam setahun kita konversikan 15 juta rumah tangga. Ini pekerjaan raksasa, karena yang lain mungkin hanya 200 ribu per tahun," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam peresmian Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) LPG Tanjung Priok, Jakarta, Jum'at (20/3/2009).

Pada saat konversi dimulai tahun 2007, JK menanyakan kesiapan Pertamina yang ternyata membutuhkan waktu enam tahun merealisasikan program ini.

"Tapi saya minta supaya ini bisa berjalan empat tahun. Dan pada 2008, saya minta agar dalam tiga tahun konversi ini selesai," tandasnya.
 
Melihat pentingnya elpiji saat ini bagi masyarakat, JK berharap Pertamina bisa terus menjaga pasokan elpiji sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

"Kalau elpiji tidak ada, bagaimaan mereka bisa masak makanya kebutuhan mereka  harus dipenuhi oleh Pertamina," ungkapnya.
 
Untuk itu, JK meminta Pertamina untuk membangun lebih banyak SPBE dengan kapasitas yang besar.

"Di tiap provinsi yang besar seharusnya ada yang seperti ini (SPBE dengan kapasitas besar), agar kalau tiba-tiba ada yang macet maka bisa diantisipasi," paparnya.
 
JK menambahkan, pihaknya juga akan membantu Pertamina yang kerap mengeluh karena pembangunan SPBE terhambat ijin dari Pemerintah Daerah.

"Soal ijin, kita sudah buat tim nasional untuk percepatan ijin dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sebagai Ketuannya. Jadi kalau ada masalah saya akan telepon Mendagri untuk menanyakan mengapa bupati-bupatinya tidak mau kasih ijin," tegasnya.
 
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengakui sejak ada program konversi minyak tanah ke elpiji, kebutuhan masyarakat akan elpiji terus meningkat.

"Secara nasional kebutuhan elpiji meningkat dari 3.700 Metrik Ton (MT) per hari pada tahun 2006 menjadi 6.030 MT pada 2008," jelasnya.
 
Begitupun dengan jumlah SPBE juga terus meningkat dari 66 Unit pada awal konversi menjadi 103 SPBE. "103 buah itu termasuk yang baru diresmikan ini."
 
Karen berharap dengan diresmikan SPBE Tanjung Priok maka tidak akan ada lagi antrian pengisian elpiji di Jabodetabek.

"Diharapkan dengan beroperasinya SPBE ini maka tidak ada antrian elpiji di Jabodetabek," harapnya.

(epi/lih)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads