Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi usai sholat Jumat di kantor BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (20/3/2009).
"Seperti Korea, Mexico, dan Amerika Latin, kesulitannya besar. Karena parent company dan afiliatednya tidak sebesar Indonesia. Harus dilihat masing-masing pinjaman utangnya," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari peminjaman ini 57% yang pinjam adalah perusahaan asing joint venture, networknya besar. Kemungkinan fleksibilitasnya lebih besar," katanya.
Menurut Hartadi, dengan besaran 57% maka kondisi ini terbilang masih bagus. Ada sejumlah usaha yang tidak terkena imbas krisis.
"Ketimbang 0%, maka 57% lebih dari separuh, itu good news. Kalau perusahaan dalam negeri dengan nature hedge kita nggak ada masalah, coba lhiat di Surabaya, dia ekspor bahan makanan yang dikeringkan, buah-buahan mungkin
sekarang tidak kena," katanya.
Ketentuan fleksibilitas ini pun akan berbeda untuk masing-masing perusahaan. Bagi perusahaan yang memiliki prospek bagus, penundaan pembayaran merupakan hal yang masih bisa diterima selama cashflow masih aman.
"Kalau perusahaan yang masih prospektif. Dia hanya tertunda pembayarannya kepada orang tuanya, sekarang masalah cash flow, ortunya pasti memberikan fleksibilitas," katanya.
(lih/ir)










































