"Isu yang masih menjadi persoalan bersama dan memiliki kepentingan yang urgent antara RRC dan Indonesia untuk dipecahkan adalah pembiayaan proyek 10.000MW," ujar Menkeu Sri Mulyani Indrawati di kantor presiden, Jakarta, Senin (23/3/2009).
Sri Mulyani memang baru saja pulang dari kunjungan ke China. Selain membahas masalah kerjasama ekonomi, juga dibahas mengenai masalah pinjaman proyek 10.000MW dan juga kasus Merpati-Xian Aircraft terkait pembelian pesawat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dicontohkannya, untuk proyek 10.000MW di PLTU Indramayu yang didanai oleh Bank of China, proyeknya kini sudah rampung 71% dan diharapkan pada September 2009 proyeknya sudah rampung.
"Kita berharap untuk Bank of China pencairan untuk pendanaan indramayu ini tidak akan terlalu lama sehingga proyek ini bisa selesai sesuai dengan schedule," ujar Plt Menko Perekonomian ini.
Sementara untuk proyek PLTU Suralaya, Paiton dan proyek-proyek lain di Pacitan, Pelabuhan Ratu dan Meulaboh juga saat ini sedang dirampungkan. Untuk PLTU Suralaya dan Paiton yang menelan dana US$ 615 juta kini sudah 64 persen pekerjaannya.
"Pembiayaannya berasal dari China Exim Bank US$ 188 juta sudah di-disburshe, sehingga kita berharap akan segera ada pencairan lebih lanjut, sehingga untuk suralaya dan paiton bisa diselesaikan sesuai dengan jadwal," tambahnya lagi.
Sementara untuk tiga proyek di Pacitan, Pelabuhan Ratu dan Meulaboh saat ini sedang dalam proses negosiasi untuk pinjaman sekitar US$ 899 juta.
"Saat ini untuk terms and condition dan negosiasi mengenai pinjaman atau pendanaan sedang dilakukan oleh PLN dengan China Exim Bank," tambahnya lagi.
Sdangkan proyek lain di Rembang yang pendanaannya sebesar US$ 262 juta dari China Development Bank menurut Sri Mulyani tidak ada masalah lagi. "Kita juga berharap ini selesai pada September 2009," katanya.
Terkait masalah Merpati Nusantara dan Xian Aircraft soal pembelian pesawat yang sebelumnya dituding menjadi penghambat pencairan pinjaman proyek 10.000MW, Sri Mulyani menegaskan bahwa kedua belah pihak akan segera berunding mencari jalan keluar.
"Kita bersama-sama dengan pemerintah RRC akan melihat persetujuan antara Merpati dengan Xian untuk pembelian pesawat ini, karena Merpati pada saat ini adalah dalam kondisi keuangan yg tidak sehat," ujarnya.
Dan karena kondisi Merpati kin sedang dalam pengawasan pemerintah dalam hal ini Tim Restrukturisasi Merpati, maka disepakati untuk penyelesaiannya secara government to goverment.
"Tim ini bersama-sama dengan tim dari pemerintah China untuk bisa menyelesaikan masalah ini sehingga tidak perlu mengganggu hubungan Indonesia dan RRC," tegasnya.
(qom/qom)










































