Demikian disampaikan Dirjen Minerbapabum Bambang Setiawan di sela-sela seminar energi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (24/3/2009).
Bambang tidak menjelaskan fasilitas apa yang belum siap. Ia hanya menyatakan, telah terjadi sesuatu pada pipa-pipa di lokasi proyek. Akibatnya, pengembang harus membuat pusat pengendali baru (controlship) yang baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tertunda, peresmian unit 3 PLTP Lahendong ini juga membawa kabar gembira. Jika sebelumnya unit 3 ini hanya diperkirakan menghasilkan 15-20 MW, ternyata bisa mencapai 30 MW.
"Tapi kita bersyukurlah kita pengen dapat 15-20MW, tahunya dapat 30 MW, seneng kan? Rejeki kan?" katanya.
Sementara untuk PLTP Sarula, hingga saat ini perundingan masalah harga masih berlangsung. Masalah harga listrik dari panas bumi hingga kini memang masih belum rampung digarap Departemen ESDM.
"Masih berunding. Asal harga cocok pada berebut. Itu sudah agak bagus saya lihat. Mudah-mudahan panas bumi sudah bisa ke ekonomis," katanya.
Sebelumnya pemerintah sudah menetapkan harga listrik panas bumi sebesar 25% dari BPP untuk tegangan tertentu. Namun formula tersebut dinilai tidak sesuai karena ada sejumlah daerah yang harganya di bawah US$ 5 sen per Kwh.
"Kalau harganya di bawah US$ 5 sen jadi susah kan? Siapa yang mau? Nah dengan adanya ini kita liat dari nilai keekonomiannya berdasarkan tiap-tiap daerah. PLN bisa lihat case by case," tambahnya.
(lih/qom)











































