Β
Namun bermunculannya investasi baru membuat banyak pelaku investasi skala kecil merasa di 'anak tirikan' oleh para pelaku pemain besar terigu.
Tak hanya itu, pengawasan harga pun terasa makin ketat. Padahal selama ini para produsen kecil mencoba melakukan efisiensi sehingga menjual harga lebih murah dibandingkan dengan produsen skala besar.
Β
"Pabrik yang kecil itu diawasi oleh yang besar-besar dari sisi harga, kita itu kalau dibandingkan itu nggak ada artinya," kata Direktur Utama PT Berkat Indah Gemilang pemilik merek terigu Mustafa dan Swordfish Singgih Sutanto saat ditemui di FX, Jakarta, Selasa (24/3/2009).
Β
Sementara itu, Direktur PT Berkat Indah Gemilang Wiyanto Soemardi menambahkan saat ini, pabriknya hanya memproduksi 100 ton gandum per hari yang menghasilan 60 ton terigu per hari. Diakuinya harga di tingkat ritel Rp 6.000 per kilo atau dengan ukuran 25 kilo Rp 150.000, membuat harganya sangat bersaing.
Β
Ia pun mengakui adanya kasus pengemasan ulang (re-packaging) produknya yang diberi label Giant, yang diduga tidak memenuhi SNI terigu. Namun kata dia hal itu bukan kesalahan sepenuhnya dari pihaknya, karena ia hanya bertanggung jawab terhadap isi produk yang dikemas oleh PT Berkat Indah Gemilang (Mustafa dan Swordfish). Bahkan adanya temuan ini terkesan aroma pengawasan dari para pelaku pemain terigu besar kian terasa.
Β
Sebelumnya Aptindo menemukan terigu berkemasan merek Giant yang tidak memenuhi syarat SNI yang diduga diproduksi oleh PT Berkat Indah Gemilang. Selain itu, ada produk terigu merek Aro, yang tidak memenuhi kadar besi kurang dari 50 mg per kilo, seng kurang dari 30 mg dan vitamin B2 dari 4 mg per kilo.
Β
Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari loppies mengatakan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh Aptindo yang selama ini mewadahi perusahaan-perusaahaan besar justru menjadi langkah positif untuk mendorong pemerintah untuk melakukan pengawasan lebih ketat lagi terhadap produk terigu yang non standar.
Β
"Sejak dulu memang, ini bagian kita untuk melakukan pengawasan," kilah Ratna.
Β
Ratna juga membantah adanya tuduhan produsen terigu skala kecil yang selama ini sulit untuk bergabung dalam Aptindo. Bahkan ia mengatakan dengan tegas, pihaknya sangat sering mengajak kepada produsen baru yang belum bergabung ke Aptindo.
Β
"Kecerewetan saya melakukan pengawasan justru berdampak positif bagi investasi, setidaknya sudah ada 16 investasi baru sekarang ini," imbuh Ratna.
Β
Keenambelas perusahaan baru itu antara lain:
Β
PT Jakaranatama yang berlokasi di Sumatera Utara, status Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang sudah berproduksi sejak 2008, PT Cerestar Flour Mills (Penanaman Modal Asing/PMA) berlokasi di Banten dan memasuki tahap pembangunan pabrik berkapasitas produksi 123.240 metrik ton per tahun. nilai investasi perusahaan ini US$ 23 juta,
Β
Selain itu ada, PT Pundi Kencana atau PT Federal Flour Mills berstatus PMA berlokasi di Banten dengan nilai investasi Rp 682 miliar dengan kapasitas produksi 600.000 MT per tahun, saat ini memasuki tahap pembangunan fisik dan rencananya beroperasi pada Februari 2008.
PT Fugui Flour and Grain status PMA, berlokasi di Jawa timur dengan investasi US$ 37,5 juta berkapasitas produksi 270.000 ton. Ada juga PT Bungasari Flour Mills (PMA) berlokasi di Banten dengan kapasitas
produksi 180.000 ton dengan nilai investasi US$ 18,7 juta dan lain-lain.
(hen/lih)










































