Para IPS memiliki pilihan yang kuat dalam menentukan harga kontrak, mengingat harga susu impor (bubuk) jauh lebih murah hingga 15% dari susu lokal.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana saat dihubungi detikFinance, Rabu (25/3/2009)
"Dampaknya bagi peternak posisi tawarnya semakin menurun, apalagi sekarang ini sedang negosisasi harga, sehingga posisi tawar IPS diatas angin. Masalah harga patokan juga masih dibahas," jelasnya.
Dengan kondisi seperti ini, sudah seharusnya pemerintah tetap melindungi kepentingan para peternak susu, sebab dengan harga jual yang tidak menutupi biaya produksi akan membuat semakin terpuruknya sektor persusuan Indonesia.
"Sejak dulu peternak selalu mendapatkan harga dibawah harga internasional, ini yang membuat sektor peternakan kita tak berkembang," jelasnya.
Diakuinya, sekarang ini dengan tingkat produksi yang masih rendah, membuat harga susu peternak lokal relatif kurang bersaing. Rata-rata setiap peternak di Indonesia memiliki 2 sampai 4 ekor sapi per keluarga, padahal seharusnya untuk bisa meningkatkan efisiensi paling tidak setiap keluarga harus memiliki 8 sampai 10 ekor sapi.
"Kalau satu keluarga punya 8 sampai 10 ekor itu sudah bagus, artinya sudah menjadi sumber pertama pencarian mereka. Sekarang yang punya 20 sapi masih sedikit," imbuhnya.
Ia menjelaskan sebelum bulan November 2008 harga susu internasional relatif tinggi sehingga membuat IPS berlomba-berlomba mencari susu lokal walhasil harga susu lokal pun iku melonjak, namun saat ini harga susu kembali turun lagi. Tegus mengatakan saat ini harga susu peternak lokal berada dikisaran Rp 3900-4000 per liter, sedangkan harga susu (bubuk) impor berkisar Rp 3400-3500 per liter.
Dikatakannya dengan jumlah peternak sebanyak 100.000 orang hanya mampu menyuplai ke IPS sebanyak 1400-1450 ton per hari atau hanya sekitar 20% dari kebutuhan IPS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(hen/qom)











































