Hal ini disampaikan Ketua umum Asosiasi Industri Tabung Baja (Asitab) Tjiptadi usai seminar 'Bisnis Elpiji Dari Hulu dan Hilir, Sebuah Peluang Investasi Untuk Pembisnis Lokal' di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (25/3/2009).
"Kita dipaksa untuk membeli dari KS padahal harga bahan baku di luar lebih murah," ujar Tjiptadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau impor bahan baku itu sekitar Rp 8.000, tapi beli material dari KS Rp 12.000," ungkapnya.
Menurut Tjiptadi, mahalnya bahan baku telah berimbas kepada harga jual tabung ke Pertamina. Jika membeli bahan baku yang lebih murah dari China, maka produsen pun bisa menekan harga jualnya ke Pertamina.
"Harga jual ke Pertamina Rp 127.000 per tabung. Tapi kalau harga beli dari China sekitar Rp 8.000, mungkin kurang dari Rp 100 ribu. Tapi tidak boleh karena ada Kepmen (Keputusan Menteri). Itu yang kita persoalkan," jelas Tjipta.
Untuk itu, Tjiptadi meminta KS menurunkan harga jual bahan baku tabung elpiji seiring penurunan harga di pasar internasional. Jika harga material diturunkan maka harga tabung elpiji juga akan turun.
"Seharusnya harga patokan tabungnya turun lagi karena harga baja di luar turun. Untuk itu KS harus turunkan harga bajanya lagi," harap Tjiptadi.
(epi/lih)










































