G20 Jangan Hanya Stop Krisis, Tapi Juga Upayakan Penyembuhan

G20 Jangan Hanya Stop Krisis, Tapi Juga Upayakan Penyembuhan

- detikFinance
Rabu, 25 Mar 2009 18:07 WIB
G20 Jangan Hanya Stop Krisis, Tapi Juga Upayakan Penyembuhan
Jakarta - Pertemuan para petinggi negara-negara maju dan berkembang G20 harus merumuskan langkah-langkah nyata, yang sifatnya tak hanya menyetop krisis, tapi juga menyembuhkannya.

"(Harapan) ada langkah-langkah nyata, tidak hanya menyetop krisis itu sendiri dalam artian mengatasi korban luka dan stop pendarahan, tapi upaya penyembuhan," ujar Menlu Hassan Wirajuda di Istana Negara, Jakarta, Rabu (25/3/2009).

Presiden SBY rencananya akan ikut menghadiri pertemuan G20 di London pada 1-2 April mendatang. Pertemuan pimpinan negara G20 ini telah didahului oleh pertemuan para Menkeu dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita hadir sebagai negara ekonomi berkembang dan melihat skala krisis finansial yang dihadapi. Saya kira realistik pandangan negara ekonomi maju bahwa ini punya dampak luas, tidak hanya bagi negara maju, tapi juga berkembang. Apa upaya mencari solusi perlu melibatkan negara berkembang khususnya tokoh-tokoh negara berkembang," katanya.

Hassan menambahkan, krisis kali ini memiliki dimensi yang kuat, sehingga penanganan hanya dengan 1-2 pertemuan saja tidak akan cukup. Namun Indonesia berharap kerangka peraturan yang dirumuskan dalam G20 dalam menghadapi krisis tidak hanya untuk negara maju, tapi juga negara berkembang.

"Krisis ini punya dimensi begitu besar, karena itu penangannya pada 1-2 summit belum cukup. Walau di luar summit ada rangkaian pertemuan tingkat menteri yang mencoba mencari solusi krisis ini," tambahnya.

Mengenai Global Support Fund untuk mengatasi krisis, Hassan mengatakan bahwa secara prinsip telah disepakati US$ 100 miliar. Lembaga-lembaga keuangan internasional juga siap mendukung seperti Bank Dunia, IMF dan Bank Pembangunan Regional. Dana untuk Global Support Fund juga diyakini bisa mencapai US$ 200 miliar.

"Kalau saya melihat malah bisa lebih dari itu (US$ 200 miliar), walaupun judulnya saya katakan tidak persih di bawah rubrik Global Support Fund," ujarnya. (qom/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads