Hal ini disampaikan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Ahmad Faisal dalam pesan singkatnya, Jumat (27/3/2009).
"Setelah program konversi selesai volume elpiji 9.000 ton per hari maka kita butuh SPBE 300 unit sedangkan saat ini baru 150 unit jadi masih kurang 150 unit," ujar Faisal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidak boleh kekurangan infrastruktur maka swasta diharapkan masuk," jelasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Nur Adib menyatakan adanya rencana pembangunan SPBBE raksasa di kota-kota besar yang dimulai Jakarta dan juga banyaknya izin pembangunan SPBBE yang sudah dikeluarkan Pertamina, akan berakibat pada pengembalian investasi yang tidak jelas dan pasti.
Total investasi untuk pembangunan sebuah SPBBE dengan kapasitas 60 metrik ton per hari Rp 9,620 miliar dan total biaya operasional mencapai Rp 2,830 miliar per tahun.
"Kalau satu SPBBE penyalurannya 50.000 kilogram per hari, maka investasinya akan kembali selama 6 tahun. Kalau kurang dari itu, waktu untuk pengembalian investasi bisa lebih lama lagi," ungkapnya.
Nur Adib mencontohkan untuk penyaluran elpiji 3 kilogram di wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, jika 169 SPBBE (saat ini baru 37 yang beroperasi dan 132 sudah mendapat izin) beroperasi tahun ini maka para pengusaha hanya dapat menyalurkan 12.000 kg elpiji per hari.
"Apalah artinya 12.000 kg per hari?" ungkapnya.
(epi/lih)











































