Para perajin hanya menargetkan sebesar US$ 70 juta, angka ini bakal terus turun sebagai dampak seretnya pasokan bahan baku.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Hatta Sinatra saat dihubungi detikFinance, Sabtu (28/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2009 menjadi titik terendah. Sejak 5-6 tahun terakhir ekspor kita selalu turun, tahun ini prediksi kita hanya US$ 70 juta, pemerintah harus segera turun tangan," seru Hatta.
Namun kata Hatta, telah terjadi perbedaan data antara AMKRI dengan pemerintah (BPS), misalnya pada tahun 2007 nilai ekspor produk barang jadi rotan sebesar US$ 319 juta. Padahal menurut AMKRI angka sebenarnya hanya mencapai US$ 100 juta.
Hal ini terjadi karena kesalahan input data oleh BPS misalnya masalah nomor HS yang belum benar, seperti ekspor produk bambu dimasukkan dalam nomor HS produk rotan. Bahkan kesalahan pun bisa terjadi terhadap produk bahan baku rotan justru dimasukan dalam katagori produk rotan jadi.
"Ini nggak mungkin angkanya sebesar itu, Cirebon saja sentra terbesar tidak sampai US$ 107 juta, karena sentra di Tangerang sudah mati, Surabaya sangat sedikit, Solo pun sedikit," jelasnya.
Mengenai nasib industri rotan saat ini, menurutnya sangat tergantung dengan pemerintah sejauh mana mendukung industri ini, mengingat permasalahan di industri ini tidak hanya tergantung dengan menutup kran ekspor bahan baku rotan, namun masih banyak yang dibenahi.
(hen/ir)











































