Hal ini dikatakan oleh Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Industri Edy Putra Irawady ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (30/3/2009).
"Sejak Januari 2009, ekspor mengalami penurunan terutama ke lima negara yang paling besar adalah Singapura, Jepang, Korea, Malaysia, AS," ujarnya.
Edy menjabarkan, untuk ekspor Indonesia Singapura penurunan paling besar mencapai 47%. Singapura termasuk negara yang saat ini terkena imbas langsung krisis keuangan global, sehingga turut berdampak pada ekspor Indonesia.
"Singapura itu biasanya menjadi trader barang-barang kita, kalau perusahaan trader Singapura banyak yang kolaps, maka dia tidak berdaya untuk memasarkan barang kita," tuturnya.
Kemudian untuk ekspor ke Jepang juga menurun khususnya untuk barang-barang mentah. "Industri mereka terganggu, sehingga permintaan barang mentah turun," imbuhnya.
Untuk ekspor ke AS, Edy mengatakan ekspor Indonesia ke negara tersebut sebenarnya tidak banyak terganggu dan posisinya justru lebih juat.
"Ekspor ke AS yang jatuh itu pada perlengkapan mobil dan suku cadang karena industri otomotif AS jatuh. Sementara untuk sepatu dan rempah-rempah masih kuat," katanya.
Beberapa hal tersebut dikatakan Edy, menyebabkan aktivitas di Pelabuhan Tanjung Priok menjadi sepi. "Penurunan ekspor di Tanjung Priok karena faktor eksternal," pungkasnya.
Penurunan Ekspor Lebih Tajam April
Penurunan ekspor Indonesia diprediksi akan terasa lebih tajam pada April 2009, persaingan komoditi yang makin ketat menjadi penyebabnya terutama di industri tekstil.
Â
"Tekstil itu sangat rawan di April karena adanya persaingan pakaian-pakaian untuk musim panas, jadi barang-barang kita harus ada perubahan mengikuti musim, jadi ekspor di April akan merosot terus," tutur Edy.
Â
Dijelaskan Edy, melihat rata-rata penurunan ekspor pada Januari-Maret 2009 adalah 42%, maka nilai ekspor di April bisa hanya mencapai US$ 3-4 miliar.
Â
"Di April biasanya ekspor itu nilainya US$ 8-7 miliar dan impor biasanya US$ 6-7 miliar, jadi kalau penurunan ekspor rata-rata 42%, nilai ekspor April bisa menurun sebesar US$ 3-4 miliar," paparnya.
Â
Dikatakannya, untuk tetap mendorong perekonomian di tengah turunnya ekspor, pemerintah akan mendorong konsumsi nasional karena di kawasan ASEAN Indonesia mempunyai pasar dalam negeri yang terbesar.
(dnl/qom)











































