Demikian disampaikan Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Industri Edy Putra Irawady ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (30/3/2009).
"Hal ini juga menjadi penyebab turunnya nilai ekspor kita, dengan jatuhnya trader di Singapura maka kita harus melakukan jual langsung, itu sulit. Karena itu kita harus kembali membina perusahaan-perusahaan perdagangan internasional agar jangan tergantung pada Singapura," tuturnya.
Menurut Edy, pengembangan kembali perusahaan dagang internasional ini bisa dilakukan dengan reorientasi BUMN di sektor perdagangan seperti Sarinah dan PPI (Perusahaan Perdagangan Internasional.
"Di saat kondisi krisis saat ini kita harus bisa menciptakan perusahaan dagang internasional," imbuhnya.
Dijelaskan Edy, dengan berjatuhannya perusahaan dagang di Singapura, maka eksportir Indonesia harus melakukan penjualan langsung produk-produknya ke negara tujuan ekspor.
"Itu semakin sulit, karena negara-negara seperti di Eropa mulai memperketat persyaratan barang masuk, bahkan mereka mulai tidak percaya pada dokumen. Eropa beraksi lebih dulu untuk mengamankan negaranya, jadi sekarang mereka mulai menyelamatkan diri sendiri," paparnya.
Edy sendiri mengatakan sejak Januari hingga Maret 2009, ekspor Indonesia ke Singapura turun 47% karena banyaknya perusahaan dagang internasional di negara tersebut yang kolaps.
"Akibatnya Singapura tidak berdaya lagi memasarkan barang kita, dan ekspor kita turun," imbuhnya.
Adapun komoditas ekspor Indonesia yang menurun saat ini dikatakan Edy adalah seperti kain, komponen elektronik, plastik, kosmetik, dan obat-obatan.
"Tekstil memang kita membutuhkan pasar baru karena penyerapan di pasar Amerika Serikat rendah," tukasnya.
(dnl/lih)











































