Negara Berkembang Terancam Bangkrut, RI Ambil Langkah Tepat

Seminar Universitas Debrecen

Negara Berkembang Terancam Bangkrut, RI Ambil Langkah Tepat

- detikFinance
Rabu, 01 Apr 2009 13:58 WIB
Negara Berkembang Terancam Bangkrut, RI Ambil Langkah Tepat
Budapest - Krisis ekonomi global bisa mengancam kebangkrutan negara-negara berkembang. Indonesia mengambil langkah tepat antara lain dengan bantuan stimulus bagi UKM dan SWAP Arrangements.

Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Hongaria, Kroasia dan Macedonia Mangasi Sihombing dalam seminar di Universitas Debrecen, Hongaria, seperti disampaikan Pelaksana Fungsi Pensosbud Shinta Hapsari kepada detikcom, 30/3/2009.

Krisis yang sedang berlangsung diakui telah mengurangi kemampuan negara-negara maju untuk mengimpor dan karena itu negara-negara sedang berkembang akan kesulitan untuk mempertahankan dan memperoleh pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Krisis ekonomi global ini bisa mengancam kebangkrutan negara-negara berkembang apabila ekspor mereka menghadapi jalan buntu sehingga cadangan devisa terkuras habis," papar Sihombing.

Dikatakan, bahwa menurunnya kegiatan ekonomi dunia jangan dijadikan alasan oleh negara-negara maju untuk menerapkan proteksi terhadap impor dari negara-negara berkembang.

Jika hal itu terjadi, maka ujung-ujungnya adalah berkurangnya kemampuan negara berkembang mengimpor dari negara-negara maju, yang berarti juga merugikan negara-negara maju sendiri.

Terkait itu, Sihombing mengemukakan bahwa pemerintah Indonesia mendesak perlunya memperkuat lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF, World Bank, Asia Development Bank, dan Africa Bank for Development mengingat lembaga-lembaga inilah sebagai sumber keuangan bagi pembangunan negara-negara terutama negara berkembang.

Kebijakan Indonesia

Lebih lanjut Sihombing menggarisbawahi bahwa Indonesia telah mengambil langkah-langkah tepat dengan memberikan bantuan stimulus bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah agar dapat mempertahankan dan meningkatkan produksinya. 

Bantuan tersebut sebesar 1,4 % dari Produk Domestik Bruto. Hal ini agak berbeda dari langkah yang diambil oleh negara-negara besar untuk mendukung bank-bank yang terperosok.

Selain itu Indonesia mempunyai Foreign Exchange Reserves memadai sekitar 54 milyar USD, ditambah SWAP Arrangements dengan Jepang, Cina dan Korea dalam jumlah cukup besar dapat menjamin kestabilan mata uang rupiah. 

"Hal tersebut akan mampu menghadapi kemungkinan serangan para spekulan mata uang seperti terjadi di 1997," jelas Sihombing.

Ketahanan ekonomi dan keuangan Indonesia juga masih diperkuat oleh bantuan dari World Islamic Economic Forum, di mana sejauh ini telah ditandatangani sejumlah persetujuan dengan lembaga-lembaga keuangan di negara-negara sahabat seperti Saudi Arabia, Malaysia dan Dubai dengan prinsip usaha syariah.

Investasi

Sihombing memandang sekalipun terdapat dampak dari krisis ekonomi global, Indonesia akan tetap menjadi tujuan investasi mancanegara. Juga kunjungan wisman selama 2009 diharapkan tidak terlalu terpengaruh.

"Stabilitas nasional, yang ditunjukan dengan semakin mantap demokrasi Indonesia, ikut memberikan keyakinan bagi investor asing untuk tetap menanamkan modalnya di Indonesia," tandas Sihombing seraya memaparkan angka-angka investasi yang masuk.

Seminar di Universitas Debrecen ini telah dilansir sejak setahun lalu dan diarahkan untuk mengamati masalah-masalah global yang mempengaruhi tatanan hubungan internasional.

Sejumlah pakar telah ikut ambil bagian sebagai penceramah dalam seminar ini, termasuk di antaranya para duta besar asing yang berdomisili di Hongaria.

(es/es)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads