Pertama, terdapat perbedaan penekanan di antara negara-negara G20 dalam upaya melakukan koordinasi pemulihan ekonomi global. Dunia sangat sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi positif.
Namun, intinya G20 fokus dalam upaya pemulihan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Ada dua blok dalam hal ini, yaitu kelompok AS, Inggris, dan Jepang, yang menginginkan adanya kebijakan stimulus fiskal secara agresif dan cepat. Kelompok lainnya adalah Jerman, Prancis, dan Italia yang lebih memilih berhati-hati dan sesuai kepentingan dalam upaya penetapan stimulus itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isu kedua, kesepakatan mengenai upaya melakukan koreksi dan pengawasan terhadap kebijakan dan peraturan lembaga-lembaga keuangan, terutama IMF, World Bank, dan ADB.
Jerman dan Prancis sangat tegas meminta agar ada komunike mengenai hal ini. "Mereka minta tidak boleh ada lembaga keuangan yang tidak diawasi," kata Sri yang menjadi delegasi Indonesia ini.
Terkait hal ini juga ada permintaan agar ada pengawasan terhadap negara-negara yang menerapkan tax heaven. "Ini hampir sama dengan anti money laundering yang dihasilkan beberapa waktu lalu setelah peristiwa 11 September," kata dia.
Isu ketiga, reformasi dan penambahan jumlah resources (dana) dari institusi moneter untuk membantu negara-negara berkembang dan miskin. "Ini nanti sesuai yang diusulkan Indonesia mengenai adanya support fund yang telah digagas pada KTT G20 di Washington," ujar Sri.
Hingga saat ini belum ada deal berapa jumlah dana yang dikeluarkan oleh IMF, World Bank, dan ADB terkait hal ini.
(asy/lih)











































