Pertumbuhan Ekonomi RI Masih di Atas 4% Kuartal I-2009

Pertumbuhan Ekonomi RI Masih di Atas 4% Kuartal I-2009

- detikFinance
Senin, 06 Apr 2009 14:16 WIB
Pertumbuhan Ekonomi RI Masih di Atas 4% Kuartal I-2009
Jakarta - Di tengah lesunya perekonomian global, perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan tumbuh di atas 4% di kuartal I-2009. Perekonomian memang turun, namun tidak akan drastis.
 
Hal tersebut disampaikan Direktur Riset Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Made Sukada  ketika ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (6/4/2009).

"Yang jelas dibandingkan kuartal sebelumnya memang kuartal I-2009 diperkirakan akan turun, tapi tidak drastis masih di atas 4%," ujarnya.
 
Untuk pertumbuhan ekonomi 2009, BI memperkirakan akan turun di kisaran 3-4%. ADB sebelumnya memperkirakan perekonomian Indonesia hanya akan tumbuh 3,6% di tahun 2009.

"Karena ekspor dan konsumsi dalam negeri diperkirakan lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya 2008, itu gambaran secara keseluruhan," imbuhnya.
 
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi 2009 di tengah kondisi krisis ekonomi global saat ini adalah pemulihan ekonomi negara-negara maju dan juga implementasi stimulus fiskal pemerintah.
 
"Kita lihat pertumbuhan ekonomi sangat tergantung dari beberapa variabel, terutama recovery pemulihan negara-negara maju. Kalau bisa lebih cepat dari perkiraan banyak pihak tentu bisa ke arah tengah 3-4% itu. kedua, stimulus fiskal. Mudah-mudahan semua stimulus jalan sesuai yang direncanakan sehingga pertumbuhannya tidak jauh, kalau toh melambat tidak sampai anjlok," urainya.

Aliran Modal Masuk


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sukada juga menjelaskan, aliran modal asing sudah mulai masuk lagi ke Indonesia, seiring membaiknya kondisi pasar modal. Berbagai usaha yang dilakukan oleh pemerintah dan BI untuk menciptakan sentimen positif pada perekonomian dalam negeri menjadi pemicu pasar modal kembali bergairah.
 
"Pemerintah dan BI berupaya memberikan confidence kepada pelaku pasar dan pelaku ekonomi dengan perkembangan positif seperti kerjasama BSA (Bilateral Swap Arrangement) dengan Jepang, Cina dan juga diusahakan dari negara lain. Jadi kami punya strong commitment untuk membuat pasar positif," tuturnya.

Pada hari ini sendiri, BI dan BoJ (Bank of Japan) telah menandatangani perjanjian peningkatan nilai BSA dalam kerangka Chiang Mai Initiative sebagai bagian dari kerjasama keuangan negara anggota ASEAN+3. Dimana Indonesia dapat melakukan swap rupiah/dolar AS dengan nilai maksimum US$ 12 miliar dalam rangka berjaga-jaga apabila diperlukan bantuan likuiditas jangka pendek.
 
"Penarikan BSA itu tergantung dari kebutuhan. Kalau memang diperlukan paling tidak payungnya sudah tersedia. Kalau seandainya dibutuhkan untuk menariknya tentu akan ditarik," kata Made.

(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads