Â
Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Rusman Heriawan mengatakan di tengah kondisi perlambatan ekspor dan impor selama triwulan I-2009, konsumsi partai politik selama masa kampanye mendorong peningkatan konsumsi.
Â
"Kampanye Pemilu 2009 akan sangat positif terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan I-2009, karena menjadi stimulus. Meskipun besarannya tidak signifikan dibandingkan dengan total pengeluaran rumah tangga sehari-hari tidak begitu besar," tuturnya saat dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (8/4/2009).
Â
Sebelumnya Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani mengatakan hal yang sama, konsumsi partai politik selama masa kampanye mendorong pertumbuhan ekonomi triwulan I-2009.
Â
"Terakhir kan parpol itu banyak mengeluarkan dana secara masif yang langsung diguyurkan dalam berbagai aktivitas, itu sedikit banyak mempengaruhi pola pertumbuhan konsumsi dalam negeri. Pemilu ini masih akan berlanjut sampai Pilpres Juli ini," paparnya.
Â
Sri Mulyani mengatakan kenaikan gaji pegawai negeri, TNI/Polri sebesar 15% dan gaji guru yang selain naik 15% juga akan mendapat tambahan tunjangan fungsional yang nominalnya luar biasa tinggi, baik guru yang pegawai negeri maupun honorer, dengan jumlah yang relatif cukup banyak, itu semua bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.
Â
Rusman mengatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2009 masih positif seperti proyeksi BI sebesar 4,6% dan Departemen Keuangan 4,3%-4,8%, karena ada 3 hal yang mempengaruhinya, antara lain:
- Kenaikan gaji untuk PNS, TNI dan Polri sebesar 15%.
- Belanja Pemilu. Ini juga stimulus untuk ekonomi. Siapapun yang mengeluarkan, itu menggelontorkan uang, yang dilakukan bukan pemerintah.
- Harga-harga yang relatif rendah. Artinya, daya beli membaik.
"Semuanya terjawab, memang ada slowdown, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2009 jadi cuma sekitar 4%. Tapi di lain pihak masih positif, jadi ada harapan konsumsi swasta dan RT kuat, karena ada stimulus tadi yaitu gaji PNS dan Pemilu," tutur Rusman.
Â
Jadi meskipun ekspor turun, menurut Rusman tetap ada pertumbuhan ekonomi yang positif selama triwulan I-2009.
Â
"Karena ekspor cuma 30% dalam komposisi PDB di 2008. Konsumsi rumah tangga dan swasta sebesar 61% atau dua kali lipat dari ekspor. Belanja pemerintah sebesar 8,4%, dan investasi 27,7%. Melihat itu, katakanlah ekspor turun terus, pengaruh terhadap pertumbuhan kalau andalkan ekspor memang potensinya turun, pasti negatif. Tapi dengan peranan konsumsi rumah tangga dan swasta kalau dijaga, maka perkiraan BI dan Depkeu bisa tercapai," paparnya.
Â
Sementara untuk penurunan ekspor sepanjang triwulan I-2009, Rusman mengatakan memang pertumbuhannya bisa minus 6%-9% sesuai prediksi Depkeu.
"Namun untuk penurunan secara volume dan harga, itu turunnya bisa 30% sepanjang triwulan I-2009," tukasnya.
(dnl/lih)











































