Β
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane saat dihubungi detikFinance, Rabu (8/4/2009).
Β
Aziz menjelaskan ban-ban non standar tersebut umumnya masuk melalui Pantai Timur Sumatera melalui Jambi, Dumai, Tanjung Lesung, Batam, Balai Karimun.
Β
"Akhir-akhir ini, mulai Januari 2009, sudah mulai marak lagi dari India dan China. Biasa mereka ekspor, tetapi nggak bisa, lalu dilempar ke Indonesia," katanya.
Β
Menurut Aziz, ban-ban tersebut umumnya menyasar para konsumen bagi produk-produk ban kendaraan mobil penumpang, ban truk , ban bus dan ban sepeda motor.
Β
"Soal datanya berapa jumlahnya kami belum tahu," jelas Aziz.
Β
Kondisi ini menurutnya sangat ironis, karena para produsen ban lokal sedang terpuruk akibat anjloknya ekspor ban hingga 23% pada triwulan pertama tahun 2009 ini.
Ia mendesak kepada bidang pengawasan barang beredar Departemen Perdagangan untuk aktif merazia ban-ban selundupan dan non standar.
Β
"Ekspor ban kita tahun 2008 hanya US$ 900 juta, saya rasa target US$ 1,5 miliar tahun ini, nggak akan tercapai," keluhnya. (hen/ir)











































