RI Siapkan Pengamanan Ketat Sambut Pertemuan Tahunan ADB

RI Siapkan Pengamanan Ketat Sambut Pertemuan Tahunan ADB

- detikFinance
Senin, 13 Apr 2009 07:04 WIB
RI Siapkan Pengamanan Ketat Sambut Pertemuan Tahunan ADB
Jakarta - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Thailand dibatalkan karena alasan keamanan setelah para demonstran berhasil menduduki tempat berlangsungnya KTT di Pattaya, Thailand. Para pemimpin negara-negara ASEAN plus 3 negara sahabat Asia yakni China, Jepang dan Korsel terpaksa harus dievakuasi dengan heli dari hotel.

Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya memutuskan untuk pulang ke tanah air pada hari itu juga. Presiden sempat tertahan di Bandara Thailand sekitar 4 jam pada Sabtu (11/4/2009) lalu.

Tak mau kejadian itu terulang, pemerintah Indonesia kini menyiapkan dengan sebaik-baiknya pertemuan tahunan Asian Development Bank (ADB) yang rencananya berlangsung di Bali awal Mei nanti. Indonesia menyiapkan dengan matang mengingat 3.000 tamu dari 65 negara akan hadir dalam pertemuan akbar ADB itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menko Perekonomian yang juga Menkeu Sri Mulyani mengaku dirinya sudah melaporkan persiapan pertemuan tahunan ADB kepada Presiden SBY.

"Kita terus monitor pelaksanaanya, ada 3.000 orang dari 65 negara akan hadir, maka pelaksanaanya dikoordinasikan dengan Polkan," ujar Sri Mulyani usai ratas dengan presiden SBY di kediaman presiden, Cikeas, Minggu (12/4/2009) malam.

Sri Mulyani mengaku juga melaporkan tentang hasil pertemuan tingkat Menkeu dari KTT ASEAN+3. Menurutnya, presiden memerintahkan kepada dirinya untuk memelihara proses komunikasi khususnya dengan Jepang, China dan Korsel.

"Presiden menginstruksikan kepada saya untuk memelihara proses komunikasi khususnya dengan Jepang, China dan Korsel, meneruskan hasil berbagai pembicaraan pada tingkat Menkeu ASEAN,"  ujarnya lagi.

Pembatalan KTT ASEAN Sebuah Kemunduran

Terkait pembatalan KTT ASEAN, para analis menyebutnya sebagai sebuah kemunduran bagi Asia di tengah krisis global. Padahal Asia diharapkan mampu memberikan peran yang besar untuk ikut menyembuhkan dunia yang sedang dilanda krisis global.

"Kesempatan untuk mengerjakan kebijakan bersama telah mengalami kemunduran. Ini adalah sebuah kemunduran bagi peranan Asia bagi pemulihan ekonomi global," ujar mantan pimpinan ASEAN, Rodolfo Severino seperti dikutip dari AFP, Senin (13/4/2009).

"Saya berharap mereka dapat segera bertemu dan mengerjakan itu lagi karena Asia memiliki potensi yang besar untuk membantu pemulihan ekonomi," ujar Severino yang kini merupakan pimpinan dari pusat studi ASEAN itu.

Pertemuan di Thailand itu sebenarnya sangat penting karena akan dilakukan finalisasi untuk crisis fund US$ 120 miliar dalam memerangi dampak krisis global.

"Tidak mudah mengumpulkan para pemimpin dalam besaran ini, termasuk pemimpin China, Jepang dan India. Ini akan menjadi kesempatan bagi Asia agar suaranya bisa lebih didengar," ujar seorang diplomat Asia Tenggara.

Pembatalan KTT ASEAN itu juga sekaligus menjadi gambaran bagaimana negara-negara ASEAN masih menjadi sandera bagi drama politik anggotanya.

"Dampak utamanya adalah pada persepsi atas Thailand, namun secara tidak langsung image ASEAN juga kena pengaruh," ujar Bridget Welsh, ahli Asia Tenggara dari Universitas John Hopkins.

"Para pemimpin itu semua selamat dan tidak terluka sudah bagus, namun ini menjadi salah satu tantangan dasar bagi ASEAN, tentang bagaimana berhubungan dengan dinamika negara-negara anggotanya," tambahnya lagi.
(qom/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads