Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai rapat terbatas membahas RKP 2010 di kantor Presiden, Jakarta, Senin (13/4/2009).
Sri Mulyani menjelaskan, realisasi anggaran 2009 sampai dengan akhir Maret, penerimaanΒ atau pendapatan negara dan hibah mencapai Rp 162,6 triliun atau 19,2 persen dari total target penerimaan negaraΒ yang sudah direvisi bersama DPR dalam pembahasan dokumen stimulus APBN 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belanja negara sudah mencapai Rp 159,7 triliun atau 16,2 persen di mana untuk belanja pemerintah pusat mencapai Rp 88,8 triliun atau 13 persen. Untuk transfer ke daerah telah ditransfer Rp 71 triliun atau 23 persen.
"Posisi sampai akhir Maret 2009 maka APBN kita masih surplus 2,9% atau bahkan kalau ditambah pembiayaan yang front loading posisi kita adalah Rp 57 triliun cash dari pemerintah," urainya.
Sri Mulyani menambahkan, jika dilihat dari sisi penerimaan pajak, maka yang terlihat mengalami penurunan adalah dari sisi PPN impor dan PPN dalam negeri terutama pada bulan Februari. Pada Maret dan Januari PPN dalam negeri secara nominal masih lebih tinggi dibanding 2008. Sementara PPN impor mengalami penurunan di 3 bulan secara berturut-turut.
"Jadi dalam hal ini penerimaan PPN impor karena impor mengalami koreksi menurun cukup tajam, dalam hal ini kalau saya bisa sampaikan pada Januari Rp 4,2 triliun, Februari Rp 4,5 triliun, Maret Rp 5 triliun.Β Sedangkan untuk PPN dalam negeri Januari Rp 10,2 triliun, Februari Rp 6,7 triliun, Maret Rp 8,7 triliun," urai Sri Mulyani.
Sementara sektor industri yang mengalami penurunan di dalam pajak, adalah industri pengolahan. PPh sampai dengan Maret 2009 hanya menyumbang Rp 13 triliun sementara tahun lalu industri pengolahan menyumbangkan Rp16,7 triliun jadi terjadi penurunan penerimaan pajak lebih dari Rp 3,7 triliun.
Industri yang lain, perdagangan, hotel, restoran dan pengangkutan serta komunikasi masih relatif stabil. PPN untuk industri manufaktur menurun dari Rp 17,8 triliun tahun lalu posisi akhir Maret 2008 menjadi Rp15,3 triliun pada akhir Maret 2009 ini.
"Pertambangan juga menurun, tentu saja karena harga dari komoditas tambang menurun sehingga penerimaan PPN pertambangan kita turun dari Rp 8 triliun menjadi hanya Rp 6,5 triliun posisi akhir Maret," katanya.
"Dengan situasi ini maka kita akan terus memantau kondisi APBN 2009 dari sisi kecepatan kementerian lembaga untuk melakukan belanjanya namun dari sisi lain yang penting juga melakukan berbagai monitoring yang sangat detail mengenai penerimaan negara sehingga kita bisa mendapatkan proyeksi yang lebih akurat mengenai kondisi ekonomi dan APBN 2009," pungkas Sri Mulyani. (qom/ir)











































