Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu kepada wartawan usai Forum Reklamasi Hutan Pada Lahan Bekas Tambang (FRHLBT) dalam Indogreen Expo 2009 di Asembly Hall, JCC Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2009).
"Misalnya, kalau harga di pasar internasional US$ 60 per ton, kemudian harga indeks Indonesia ditetapkan US$ 75 per ton, maka sudah jelas konsumen tidak mau beli," ujar Bob.
Menurut Bob, indeks harga jual batubara tersebut nantinya kemungkinan tidak akan akan mengikat para pengusaha batubara.
"Indeks itu hanya sebagai referensi, namun harga final tergantung negosiasi penjual dan pembeli,'' ungkap Bob.
Pada kesempatan yang sama, Bob menyatakan target produksi batubara nasional yang semula 230 juta ton akan direvisi.
"Kalau realisasi produksi kuartal satu sesuai target kami maka target 230 juta ton bisa tercapai, tapi kalau tidak ya kemungkinan akan dikoreksi," ungkap Bob.
Bob menambahkan pihaknya belum mengetahui realisasi laporan produksi pada kuartal satu ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(epi/lih)










































