Proyeksi Ekonomi Indonesia 5 Tahun ke Depan Versi BI

Proyeksi Ekonomi Indonesia 5 Tahun ke Depan Versi BI

- detikFinance
Rabu, 15 Apr 2009 11:27 WIB
Proyeksi Ekonomi Indonesia 5 Tahun ke Depan Versi BI
Jakarta - Perekonomian Indonesia diperkirakan mengalami tekanan yang cukup kuat di tahun 2009, seiring terjadinya krisis global. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6,1% sebagaimana diraih tahun 2008, Indonesia masih butuh beberapa tahun lagi.

Demikian laporan dari "Outlook Ekonomi Indonesia 2009-2014" yang dirilis Bank Indonesia, Rabu (15/4/2009).

BI dalam laporan tersebut menjelaskan, meskipun diperkirakan akan mengalami tekanan yang cukup kuat pada tahun 2009, namun dalam jangka menengah perekonomian diperkirakan akan tetap bergerak dalam lintasan pertumbuhan ekonomi yang makin tinggi dengan laju inflasi yang tetap terkendali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi 6,1% diperkirakan baru bisa dicapai lagi pada tahun 2014. Proyeksi pertumbuhan ekonomi versi BI dalam 5 tahun ke depan adalah:
  • Tahun 2009: 3,5-4,5%
  • Tahun 2010: 4,5-5,5%
  • Tahun 2011: 5-6%
  • Tahun 2012: 5,4-6,4%
  • Tahun 2013: 5,7-6,7%
  • Tahun 2014: 6-7%.

Namun untuk inflasi di Indonesia diperkirakan bisa semakin terkendali. Perkiraan inflasi versi BI dalam 5 tahun ke depan adalah:
  • Tahun 2009: 5-7%
  • Tahun 2010: 6-7%
  • Tahun 2011: 5,1-6,1%
  • Tahun 2012: 4,5-5,5%
  • Tahun 2013: 4,5-5,4%
  • Tahun 2014: 4-5%.

Laporan itu menjelaskan, permintaan domestik diperkirakan akan tetap menjadi kekuatan utama pertumbuhan ekonomi, sementara kinerja ekspor juga akan kembali mengalami penguatan sejalan dengan mulai bangkitnya perekonomian global pada tahun 2010. Berdasarkan asesmen yang dilakukan, lintasan pemulihan ekonomi (recovery path) dunia, yang dimotori oleh negara-negara maju, diperkirakan akan mengikuti pola "U-shape" secara kuartalan, namun secara tahunan akan cenderung "V-shape".

Penguatan sisi permintaan domestik ini mampu diimbangi dengan meningkatnya daya dukung kapasitas perekonomian, sehingga mampu menjaga kecukupan di sisi produksi. Terjaganya keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran inilah yang merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan perekonomian mampu terus tumbuh tanpa harus mengorbankan stabilitas harga.

Meskipun demikian, tekanan yang cukup kuat terhadap perekonomian pada tahun 2009 menyebabkan akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang akan cenderung terhambat, sehingga secara umum proyeksi perekonomian ini mengalami penyesuaian ke bawah dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono dalam sambutan laporan ini menyatakan, salah satu poin penting yang disampaikan dalam IEO Edisi ini adalah ditemukannya indikasi karakteristik perekonomian nasional yang mengarah pada domestic-demand led growth.

"Hal ini diyakini merupakan salah satu penyebab lebih kuatnya daya tahan perekonomian terhadap kejutan eksternal belakangan ini. Temuan ini memberi implikasi kebijakan yang sangat serius karena berdasarkan karakteristik perekonomian yang semacam ini, arah kebijakan ekonomi dengan demikian harus diarahkan untuk tetap menjaga ukuran pasar (market size) dan daya beli masyarakat," ujar Hartadi.

Menurutnya, hasil tersebut akan mengejutkan karena strategi export led growth selama ini telah terbukti sebagai resep ampuh di kawasan Asia dan Indonesia sedang berupaya keras untuk menggunakan resep yang sama. 

"Apakah dengan demikian kita harus kembali kepada strategi import substitution yang telah lama kita tinggalkan? Apakah globalisasi tidak akan lagi menjadi jurus andalan untuk mendorong kemajuan negeri?" tambah Hartadi.

Hartadi menjelaskan, pilihan atas strategi ini tidak berarti kita harus menomorduakan pilihan strategi kebijakan yang lain. Lebih jauh lagi, sebagai suatu strategi kebijakan dalam jangka panjang, kekuatan permintaan domestik semata tidak akan mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

"Hanya kekuatan permintaan domestik yang mampu diimbangi oleh sisi produksi (penawaran) yang dapat membawa perekonomian mencapai pertumbuhan tinggi tanpa harus mengorbankan stabilitas harga," pungkasnya. (qom/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads